PrameswaraFM – Pemerintah Kabupaten Lamongan akhirnya memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 26 Januari 2026 seperti dikutip dari beritajatim.com.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan terverifikasi, banjir yang merendam 2.031 rumah di enam kecamatan (Turi, Kalitengah, Lamongan, Karangbinangun, Deket, dan Glagah) tak kunjung surut secara signifikan selama satu bulan terakhir. Ketinggian air masih “bermain” di angka 10 hingga 59 sentimeter, membuat aktivitas warga lumpuh sebagian.
Edukasi Hidrologi: Fenomena “Backwater” Bengawan Jero
Mengapa banjir di Lamongan begitu “awet”? ini bukan sekadar soal hujan deras.
Secara scientific, fenomena ini disebut Efek Backwater (Air Balik).
- Kunci Masalah: Banjir dipicu luapan Waduk/Sungai Bengawan Jero. Normalnya, air dari sini dibuang ke sungai induk, Bengawan Solo, melalui pintu air (sluice gates).
- Macetnya Drainase Gravitasi: Masalahnya, debit air di Bengawan Solo sendiri sedang tinggi akibat puncak musim hujan Januari.
- Hukum Bejana Berhubungan: Karena level air di sungai pembuangan (Bengawan Solo) lebih tinggi atau setara dengan Bengawan Jero, air tidak bisa mengalir keluar secara gravitasi. Malah, jika pintu dipaksa dibuka tanpa pompa, air Bengawan Solo yang akan masuk menyerbu perkampungan.
Inilah yang dijelaskan oleh Kabid Kedaruratan BPBD Jatim, Satriyo Nurseno: “Air tidak bisa dibuang ke Bengawan Solo, membuat arus berbalik dan meluber ke permukiman”.
Solusi Teknologi: Perang Melawan Debit Air
Dalam kondisi deadlock gravitasi seperti ini, teknologi adalah satu-satunya harapan. Pemkab dan BPBD kini mengandalkan “jantung buatan” berupa pompa air kapasitas raksasa.
- Rumah Pompa Kalitengah: Dua unit pompa diaktifkan non-stop.
- Kapasitas: Mampu menyedot 10.000 liter air per detik. Bayangkan, ini setara dengan mengosongkan dua tangki truk pemadam kebakaran hanya dalam satu detik!.
Pantauan Regional: Jombang, Pasuruan, Sidoarjo & Gresik
Lamongan tidak sendiri. Wilayah penyangga Surabaya lainnya juga sedang berjuang, meski dengan dinamika berbeda:
- Jombang: Menghadapi tantangan kerusakan alat Early Warning System (EWS) akibat tersapu banjir, yang kini sedang dikebut perbaikannya oleh BPBD Jatim.
- Sidoarjo, Gresik, Pasuruan: Genangan dilaporkan mulai berangsur surut, namun status “Waspada” tetap menyala karena cuaca ekstrem masih fluktuatif.
Faktor Klimatologi: Puncak Musim Hujan
Sesuai prediksi BMKG, Januari 2026 adalah puncak musim hujan. Intensitas curah hujan yang tinggi ini diperparah oleh kondisi tanah yang sudah jenuh air (soil saturation), sehingga air hujan tidak lagi meresap ke tanah melainkan langsung menjadi aliran permukaan (runoff) yang memicu banjir.
Respons Kemanusiaan: Bukan Sekadar Sembako
Selain pompa, penanganan dampak kesehatan menjadi prioritas. Genangan air yang kotor dalam waktu lama memicu wabah penyakit kulit (dermatitis). Pos kesehatan telah disiagakan, dan distribusi bantuan kini mencakup sepatu boots agar warga tetap bisa beraktivitas tanpa kontak langsung dengan air kotor.
Ketangguhan dan Kewaspadaan
Perpanjangan status darurat ini adalah sinyal bahwa alam belum bersahabat. Bagi warga di bantaran Bengawan Jero, ketangguhan mental kini diuji. Namun, bagi pemerintah, ini adalah ujian infrastruktur. Apakah di tahun-tahun mendatang kita masih akan bergantung pada pompa, ataukah ada solusi jangka panjang untuk “memerdekakan” Lamongan dari siklus banjir tahunan ini? (RFF)



