Senin, Februari 9, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

“Raja” Gerhana Matahari 2027: Siang Jadi Malam 6 Menit, Apakah Langit Indonesia Kebagian?

PrameswaraFM – bagi Anda para pemburu fenomena langit (umbraphile), tandai kalender Anda sekarang juga! Dunia astronomi sedang heboh membahas fenomena akbar yang akan terjadi pada 2 Agustus 2027.

Mengutip laporan terbaru dari Kompas.com (18/1/2026), fenomena ini bukan sekadar gerhana biasa. Ini adalah Gerhana Matahari Total (GMT) dengan durasi totalitas yang luar biasa panjang, bahkan disebut-sebut sebagai yang terlama yang tersisa di abad ke-21 ini.

Bayangkan, siang hari yang terik akan mendadak berubah menjadi gelap gulita seperti malam selama lebih dari 6 menit!

Mengapa Bisa Selama Itu?

Secara saintifik, durasi “monster” ini terjadi karena kombinasi posisi celestial yang sangat presisi:

  1. Posisi Bulan (Perigee): Pada tanggal tersebut, Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi, sehingga piringannya tampak lebih besar dan mampu menutupi Matahari lebih lama.
  2. Posisi Bumi (Aphelion): Sebaliknya, Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, membuat Matahari tampak sedikit lebih kecil.
  3. Siklus Saros 136: Gerhana ini adalah “keluarga” dari Siklus Saros 136, siklus legendaris yang memang dikenal selalu menghasilkan gerhana-gerhana berdurasi panjang (termasuk gerhana 1991 dan 2009).

“Bisakah Dilihat di Indonesia?”

Ini adalah pertanyaan yang paling dinanti Sobat Prameswara. Berdasarkan analisis data Time and Date dan NASA yang telah kami verifikasi, jawabannya adalah: Ya, tapi TIDAK TOTAL.

Sayangnya, jalur “kegelapan sempurna” (totalitas) hanya akan melintasi wilayah Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Libya, Mesir), Spanyol Selatan, hingga Arab Saudi dan Yaman.

Bagaimana dengan kita di Lamongan dan Indonesia?

  • Wilayah Barat (Sumatera & Sebagian Jawa): Berpotensi menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian (Partial) menjelang Matahari terbenam (sekitar pukul 17.50 WIB). Matahari akan terlihat “tergigit” sedikit sebelum akhirnya tenggelam di ufuk barat.
  • Wilayah Timur: Kemungkinan besar tidak akan melihatnya karena Matahari sudah terbenam lebih dulu.

Jadi, bagi Sobat Prameswara, kita mungkin hanya akan melihat senja yang sedikit lebih redup dari biasanya.

Rekomendasi “Wisata Langit”

Jika Anda memiliki rezeki lebih dan ingin merasakan sensasi magis tertutup bayangan Bulan selama 6 menit 23 detik (rekor terlama), lokasi terbaik di muka bumi untuk menyaksikannya adalah di Luxor, Mesir.

Bayangkan sensasinya: menyaksikan fenomena astronomi langka dengan latar belakang situs sejarah ribuan tahun. Sebuah perpaduan epik antara science dan history!

Jangan Asal Lirik!

Meskipun di Indonesia hanya parsial, Prameswara FM tetap mengingatkan: Jangan pernah menatap Matahari secara langsung tanpa alat pelindung! Bahkan saat tertutup sebagian, radiasi sinar UV tetap bisa merusak retina mata secara permanen (solar retinopathy). Gunakan kacamata gerhana berstandar ISO 12312-2.

Semesta Sedang “Show Off”

Fenomena ini mengingatkan kita betapa presisinya “jam dinding” alam semesta. Bagi kita, ini adalah momen untuk merenung dan belajar. Bagi ilmuwan, ini kesempatan emas meneliti korona Matahari. Dan bagi kita di Indonesia, meski hanya kebagian “ekor”-nya saja, tetaplah menjadi saksi sejarah astronomi ini dengan bijak. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles