Rabu, Januari 21, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Lamongan Inklusif: Festival Difabel 2025, Bukti Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Kreativitas Tanpa Batas

PrameswaraFM – Stigma bahwa penyandang disabilitas hanya membutuhkan belas kasih (charity) harus segera dikubur dalam-dalam. Di Kabupaten Lamongan, narasi tersebut telah bergeser menjadi pemberdayaan dan kemandirian. Hal ini terbukti nyata dalam gelaran Festival Difabel 2025 yang berlangsung di Pendopo Lokatantra, Selasa (9/12/2025) seperti dikutip dari beritajatim.com.

Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan ini bukan sekadar seremonial peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI), melainkan sebuah panggung pembuktian bagi 250 peserta difabel untuk unjuk gigi—mulai dari fashion show, pameran produk UMKM, hingga kompetisi vlog kreatif.

Bukan Sekadar Seremonial: Sebuah Kritik & Apresiasi

Seringkali, peringatan hari besar terjebak pada euforia sesaat. Namun, apa yang terjadi di Lamongan menunjukkan adanya peta jalan (roadmap) yang jelas menuju Kabupaten Inklusif.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi (akrab disapa Pak Yes), dalam sambutannya menegaskan poin krusial:

“Hak dan kontribusi penyandang disabilitas harus mendapat tempat yang sama. Festival ini bukan seremonial, melainkan wadah bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan dan memperluas jejaring.”

Pernyataan ini validasi bahwa pemerintah daerah mulai menyadari potensi ekonomi di balik komunitas difabel, bukan hanya melihat mereka sebagai objek bantuan sosial.

Infrastruktur Kebijakan: Lahirnya FP2HD

Salah satu poin paling strategis dalam acara ini adalah pelantikan pengurus Forum Perlindungan dan Pemenuhan Hak Disabilitas (FP2HD) periode 2025–2028.

Mengapa ini penting? Karena keberadaan forum formal seperti FP2HD menjamin bahwa aspirasi kaum difabel memiliki saluran resmi ke dalam kebijakan publik. Tri Febri Khoirul Nidhom, Ketua FP2HD yang baru dilantik, menekankan bahwa perjuangan mereka tidak berhenti di festival. “Kami data semua. Bakat, potensi, hingga akses pendidikan tinggi dan kesehatan akan kami dampingi,” tegasnya. Ini adalah langkah maju dari sekadar “memberi ikan” menjadi “memberi kail”.

Inovasi Konkret: Program “Tas Mantri”

Sebagai edukasi bagi masyarakat, dukungan terhadap disabilitas di Lamongan tidak hanya terjadi di panggung festival. Ada inovasi teknis di bidang kesehatan yang patut diacungi jempol, yakni program Tas Mantri (Disabilitas Mandiri Terlindungi).

Program yang digagas oleh Puskesmas Turi ini meliputi:

  • Home Care Service (HCS): Layanan kunjungan rumah rutin dua kali seminggu.
  • Pelatihan Caregiver: Memberdayakan keluarga atau pendamping.
  • Bantuan Alat Kesehatan: Penyediaan tensimeter hingga alat bantu mobilisasi.

Data menunjukkan terdapat 4.679 penyandang disabilitas di Lamongan. Tanpa intervensi program spesifik seperti Tas Mantri, angka ini hanya akan menjadi statistik. Namun dengan program ini, kualitas hidup mereka terpantau secara medis dan sosial.

Menuju Lamongan yang Ramah untuk Semua

Festival Difabel 2025 di Lamongan memberikan pesan kuat: Keterbatasan fisik hanyalah kondisi medis, tetapi “batasan” yang sesungguhnya ada di pikiran kita. Ketika 250 difabel mampu melukis, bernyanyi, dan memproduksi karya bernilai ekonomi, mereka sedang mengajarkan kita tentang resiliensi (ketangguhan).

Tugas kita—masyarakat dan pemerintah—adalah memastikan “panggung” bagi mereka tetap ada setiap hari, bukan hanya setiap tanggal 9 Desember. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles