PrameswaraFM – Jepang baru saja diguncang gempa besar M 7,6. Dua wilayah kena tsunami, 30 orang luka. Dalam hitungan menit, sirene berbunyi, data masuk, sistem bekerja, dan warga mengikuti protokol seperti mereka sedang menjalani rutinitas pagi: sikat gigi, sarapan, evakuasi. Bagi Jepang, bencana bukan kekacauan hanya daftar pekerjaan tambahan.
Lalu kita menoleh pada Indonesia, negara yang juga berada di cincin api, tetapi sering terlihat seperti cincin asap: ramai di permukaan, kosong di dalam. Di Jepang, gempa M 7,6 adalah ujian ketahanan sistem; di Indonesia, itu setara tes stres nasional—bukan untuk bangunan, tapi untuk jumlah kantong jenazah.
Perbedaannya brutal dan terang benderang:
Jepang membangun ketangguhan.
Indonesia membangun alasan.
Saat Jepang sibuk memecahkan masalah struktural, kita sibuk memecahkan siapa yang harus disalahkan. Saat Jepang memperkuat kualitas bangunan, kita memperkuat draft pidato belasungkawa. Jepang berinvestasi pada riset gempa; Indonesia berinvestasi pada seminar gemuk.
Dalam obrolan itu ada yang nyeletuk tanpa filter, tanpa sensor:
“Ya maklum, di Jepang korupsi kecil. Mereka sibuk memperbaiki sistem. Di Indonesia sibuk memperbaiki laporan anggaran dan membentuk badan baru ketika ada bencana baru.”
Dan tawa pun pecah. Tawa pahit, tawa malu-malu bangga, tawa yang hanya muncul dari bangsa yang sudah fasih menertawakan derita sendiri karena tidak tahu lagi harus melakukan apa selain tertawa.
Di Jepang, mitigasi adalah disiplin.
Di Indonesia, mitigasi adalah jargon.
Di Jepang, SOP adalah dokumen hidup.
Di Indonesia, SOP adalah dokumen yang hidupnya di laci.
Dan saat bencana tiba, Jepang menunjukkan bahwa negara bisa lebih cepat dari alam. Sementara Indonesia menunjukkan bahwa negara bisa lebih lambat dari rumor WhatsApp.
Kesimpulannya sederhana tapi menyengat:
Ada negara yang belajar dari setiap gempa.
Ada negara yang hanya belajar menormalisasi korban gempa.
Dan sampai Indonesia berhenti menyembah retorika dan mulai bekerja pada realita, setiap guncangan tektonik akan terus menguji satu hal yang paling rapuh di negeri ini: bukan tanahnya, tapi cara berpikirnya. (EQ)
EDITORIAL : Gempa Jepang dan Stand-up Comedy Bernama Negara Kita



