PrameswaraFM – Pada 6 April 1977, Mochtar Lubis berdiri di Taman Ismail Marzuki dan menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai Manusia Indonesia. Ia menyebut kita bangsa yang masih belajar menjadi dirinya sendiri. Waktu itu, Indonesia baru 32 tahun usia yang dalam kehidupan manusia masih setara awal kedewasaan.
Namun hari ini, Indonesia sudah lebih dari 80 tahun.
Di tahap ini, bangsa seharusnya tidak lagi sibuk mencari jati diri, tetapi menguasai diri.
Sayangnya, realitas sosial kita menunjukkan sebaliknya.
Kita masih menjadi masyarakat yang cepat tersinggung oleh perbedaan pendapat, tetapi lambat bergerak ketika ketidakadilan terjadi. Kita ramai di kolom komentar, tetapi sunyi ketika dihadapkan pada kerja nyata. Kita mengecam korupsi, tetapi dalam praktik sehari-hari masih menormalisasi “uang jalan”, “tanda terima kasih”, dan “asal ada bagian”.
Keramahan yang kita banggakan sering kali hanyalah tata krama yang melapisi ketidakjujuran emosional. Kita senyum, tapi menyimpan marah. Kita mengangguk, tapi tidak setuju. Kita menerima, tapi dalam hati merasa dipaksa.
Kita bukan bangsa yang kurang cerdas.
Kita bangsa yang menghindari tanggung jawab.
Bukan hanya tanggung jawab di ruang publik, tetapi tanggung jawab terhadap diri sendiri:
mengakui kesalahan, belajar dari kegagalan, dan berubah tanpa harus “menunggu orang lain memulai”.
Kita sering berkata, “Bangsa ini ramah.”
Tetapi kemarahan kecil itu kini muncul di mana-mana:
Di jalan raya yang penuh klakson dan senggol ego.
Di layar ponsel yang penuh fitnah dan saling maki.
Di ruang rapat yang penuh defensif, bukan kolaborasi.
Di lorong birokrasi yang mempersulit warga tapi memudahkan kroni.
Kita marah, tetapi bukan karena keberanian.
Kita marah karena tidak pernah diajarkan menata konflik secara dewasa.
Mungkin inilah yang membuat bangsa ini seperti rumah besar dengan banyak penghuni, namun semua sibuk dengan status, gengsi, dan klaim moral masing-masing—alih-alih membangun masa depan bersama.
Menjadi bangsa yang matang bukan berarti menjadi bangsa yang tanpa masalah.
Matang berarti jujur menatap masalah dan tidak lari darinya.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia kekurangan orang berani bertanggung jawab tanpa alasan tambahan.
Jika kita menginginkan negara yang lebih adil, maka kedewasaan itu harus dimulai dari hal paling sederhana:
Berani berkata jujur.
Mau mengakui kesalahan.
Tidak menyalahkan keadaan terus-menerus.
Tidak menunggu pahlawan datang.
Karena bangsa tidak tumbuh oleh pidato.
Bangsa tumbuh oleh konsistensi tindakan.
Delapan puluh tahun adalah usia yang cukup panjang untuk berhenti berdalih bahwa kita masih “belajar”. Sudah waktunya bangsa ini berhenti menjadi mahasiswa abadi sejarah.
Kalau bukan sekarang, kapan?
Kalau bukan kita, siapa?
Indonesia akan menjadi bangsa dewasa
hanya ketika warganya berani dewasa terlebih dahulu. (EQ)



