Rabu, Desember 10, 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

EDITORIAL : Jeritan Sunyi dan Harapan Baru: Mengurai Tragedi Perundungan di Dunia Pendidikan

PrameswaraFM – Di bawah naungan janji pendidikan, sebuah luka kronis terus menganga. Perundungan, atau bullying, bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Ia telah menjelma menjadi benih tragedi yang merenggut nyawa, memicu satu pertanyaan fundamental: seberapa amankah institusi yang kita sebut sekolah?

Perundungan hadir dalam berbagai bentuk: pukulan fisik, bisikan verbal yang menusuk, hingga teror psikologis yang tak terlihat. Dampaknya, sungguh fatal.

Tragedi yang Mengguncang: Dua Sisi Mata Uang Keputusasaan

Publik dikejutkan oleh kisah pilu di Bali, di mana seorang mahasiswa Universitas Udayana memilih jalan sunyi yang paling ekstrem. Ia melompat dari lantai empat Fakultas FISIP, diduga kuat karena terdesak oleh tekanan perundungan yang dialaminya.

Ironisnya, bahkan setelah kematiannya, tragedi itu dilaporkan masih dijadikan bahan olok-olok oleh sejumlah mahasiswa. Sebuah potret mengerikan dari kegagalan empati yang akut di lingkungan akademis.

Tak hanya itu, kita juga mendengar bahwa aksi ekstrem, ledakan di SMAN 72 Jakarta, diduga terpicu oleh luapan amarah dari seorang korban buli yang telah mencapai titik putus asa.

Bunuh diri dan balas dendam. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang lahir dari satu sumber yang sama: tekanan perundungan yang tak tertahankan.

Menggali Akar Masalah: Trauma Psikologis dan Kegagalan Sosiologis

Mengapa lingkaran setan ini terus terjadi? Para ahli memberikan pandangan yang tajam.

Konselor Psikologi dan Pemerhati Pendidikan, Heri Budi Laksana seperti dikutip dari Spektrum Radio Jatim, memberikan peringatan keras terkait trauma mendalam yang ditinggalkan oleh perundungan.

“Efek pasca-trauma dari korban buli sangat mengkhawatirkan. Delapan puluh persen cenderung akan berbuat menyimpang. Entah itu balas dendam, atau bunuh diri.”

Heri menegaskan bahwa korban perundungan, dengan luka batin yang mereka bawa, tidak akan pernah mampu mengatasi beban jiwanya sendiri. Mereka membutuhkan uluran tangan dan intervensi serius dari pihak lain.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Negeri Trunojoyo Madura, Bagus Irawan seperti dikutip dari Spektrum Radio Jatim, menyoroti kegagalan sistem pengawasan di sekolah. Menurutnya, akar masalah ini bersifat sosiologis.

“Secara sosiologis, bullying disebabkan adanya faktor anti-perbedaan pada lingkungan sosial. Pihak sekolah harus peka terhadap jaminan keamanan pribadi para siswa.”

Analisisnya jelas: akar masalahnya adalah ketidakmampuan lingkungan untuk menerima keragaman, yang diperparah oleh sistem yang lalai dan tidak peka.

Harapan Baru: Program Roots dan Kekuatan Agen Perubahan

Namun, di tengah duka ini, ada strategi efektif yang menanamkan harapan baru. Fokusnya bukan pada hukuman, melainkan pada pemberdayaan.

Inilah Program Roots, sebuah model pencegahan yang didukung oleh UNICEF, yang membuktikan bahwa perubahan harus datang dari dalam. Program ini melatih siswa-siswa yang paling berpengaruh di sekolah untuk menjadi Agen Perubahan Anti-Perundungan.

Mereka tidak bertindak sebagai pengawas, melainkan sebagai pionir perubahan. Para siswa ini dilatih dengan pemahaman mendalam tentang empati, toleransi, dan resolusi konflik. Mereka kemudian bertugas untuk:

  • Menghentikan perundungan secara langsung saat mereka melihatnya terjadi.
  • Membuka percakapan yang sulit dengan korban, memberikan dukungan emosional.
  • Menciptakan norma sosial baru di antara teman sebaya yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai.

Program Roots memberikan pelajaran berharga: Kunci untuk menghentikan tirani perundungan bukanlah pengawasan yang menakutkan dari atas, melainkan kekuatan solidaritas yang ditanam di antara teman sebaya.

Ini adalah panggilan untuk kepekaan kita bersama. Bahwa setiap institusi pendidikan harus menjadi rumah aman, tempat di mana anak-anak kita bertumbuh, bukan tempat di mana jeritan sunyi mereka dipaksa tamat.

Diperlukan komitmen tanpa henti untuk menciptakan sekolah yang merangkul setiap perbedaan. Karena jaminan keamanan bagi setiap individu adalah fondasi dari pendidikan yang bermartabat. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles