Rabu, Desember 10, 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

EDITORIAL : Biofuel, Hijau di Kata, Belum Tentu Adil di Kenyataan

PrameswaraFM – Belakangan ini, kita melihat geliat baru dalam narasi energi nasional: BBM dari tanaman, yang katanya punya RON tinggi, ramah lingkungan, dan jadi jalan menuju kemandirian energi. Isunya terdengar futuristik, berkelanjutan, visioner. Tapi seperti biasa, di negeri ini, kita diajak tepuk tangan dulu sebelum sempat bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Mari kita realistis.
Bioetanol memang punya angka oktan tinggi. Secara teknis, itu fakta. Mesin bisa lebih halus, emisi bisa jadi lebih rendah. Tapi energi per liternya lebih kecil. Artinya, konsumsi bisa lebih boros, kantong masyarakat bisa lebih berat, walaupun branding-nya “lebih bagus”.

Di titik ini, kita perlu berhenti percaya bahwa angka besar dan jargon teknis otomatis berarti kebaikan untuk semua. Kebijakan energi bukan sekadar soal kualitas bakar. Ini soal struktur ekonomi: siapa yang memproduksi, siapa yang menjual, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang akhirnya bayar paling banyak.

Karena yang lebih mengkhawatirkan bukan teknologinya.
Yang mengkhawatirkan adalah pola lama yang menyamar jadi inovasi baru.

Kalau singkong, tebu, atau sorgum nanti diserap besar-besaran untuk industri bahan bakar, maka pangan akan bersaing dengan energi. Kita sudah pernah melihat kasus minyak goreng: negara produsen sawit terbesar sedunia, tapi rakyatnya antre membeli minyak goreng. Itu bukan soal komoditas, itu soal prioritas ekonomi yang salah tempat.

Jangan sampai kita mengulang babak kedua:
energi hijau yang justru mengorbankan rakyat kecil.

Narasi “petani akan sejahtera” itu enak di konferensi pers. Tapi kita tahu, tanpa struktur harga yang adil, petani hanya akan tetap jadi penyetor bahan mentah dengan margin paling tipis. Sementara elite industri dan negara mengambil sorotan dan tepuk tangan.

Jadi, ketika pemerintah berkata ini adalah masa depan, kita berhak bertanya:

Apakah harga pangan akan stabil?

Apakah petani diberi posisi tawar, bukan cuma kewajiban menanam?

Apakah konsumen akan mendapat harga yang rasional?

Atau ini hanya rebranding dari ketergantungan yang sama, tapi dengan warna cat hijau?

Energi hijau itu penting. Kita semua tahu itu.
Tapi keadilan energi jauh lebih penting.
Kalau “hijau” hanya jadi kosmetik untuk bisnis lama, maka yang berubah hanya sampulnya isinya tetap sama: rakyat di bawah tetap bayar paling mahal.

Yang kita butuhkan bukan sekadar BBM yang baru, tapi cara berpikir yang baru: energi yang bukan hanya bisa diproduksi, tapi adil untuk dijalani.

Karena pada akhirnya, keberlanjutan bukan diukur dari bahan bakarnya. Tapi dari siapa yang hidup lebih baik karenanya. (EQ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles