Bangsa ini sering berbarter dengan lupa.
Kita hapal tanggal kemerdekaan, tapi gagap mengingat hari-hari ketika suara rakyat dibungkam oleh gas air mata.
Kita cepat memaafkan bahkan sebelum ada yang meminta maaf.
Cepat beranjak, padahal luka belum sempat ditutup dengan keadilan.
Waktu itu September 2025
asap menelan langit kota, dan di antara ribuan langkah yang berteriak tentang keadilan,
ada darah yang tumpah di jalan raya,
ada nyawa yang berhenti bernafas bukan karena takdir,
tapi karena kekuasaan yang tak tahu malu.
Dan hari ini, kita disuguhi diam.
Tuntutan yang dulu membakar hati kini menguap dalam rapat dan siaran pers.
Janji-janji yang pernah digemakan dari podium berubah jadi catatan kaki yang terlupakan.
Padahal, di balik setiap tuntutan itu, ada ibu yang kehilangan anak,
ada sahabat yang tak lagi pulang,
ada keberanian yang dibayar lunas dengan nyawa.
Bangsa yang lupa bukan bangsa yang pemaaf itu bangsa yang menyerahkan masa depannya untuk diulang dalam bentuk bencana.
Lupa bukan netral. Lupa adalah keberpihakan pada pelaku.
Dan setiap kali kita diam, sejarah menulis satu baris baru:
“Rakyat Indonesia kembali melupakan darahnya sendiri.”
Jadi, jangan bilang waktu sudah menyembuhkan.
Waktu tidak menyembuhkan apa pun ia hanya menimbun luka di bawah berita baru.
Yang menyembuhkan hanyalah kejujuran dan keberanian untuk menuntaskan janji.
Mereka yang mati di jalan itu tidak butuh bunga atau patung.
Mereka butuh keadilan yang berjalan, bukan sekadar dikutip.
Mereka butuh kita untuk ingat
bahwa kemarahan rakyat waktu itu bukan salah paham,
tapi panggilan agar bangsa ini berhenti berdusta kepada dirinya sendiri.
Karena ingatan adalah bentuk terakhir dari perlawanan.
Dan kalau kita kehilangan itu
kita bukan bangsa yang terluka,
kita cuma penonton dalam tragedi yang kita biarkan berulang. (EQ)



