PrameswaraFM – Surabaya kembali menjadi episentrum. Di bawah terik matahari Kota Pahlawan, sejarah panjang pembinaan tenis usia dini kembali berdetak lewat gelaran Turnamen Tenis International Tennis Federation (ITF) Junior Widjojo Soejono ke-43. Tahun 2026 ini bukan sekadar deret angka dalam kalender olahraga Jawa Timur, melainkan sebuah manifestasi dari warisan visi yang menembus waktu.
Turnamen yang diinisiasi oleh mendiang Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono—perwira tinggi militer bintang empat yang jejak sejarahnya turut mengawal Republik ini sekaligus mencintai dunia tenis—terus dilestarikan. Dedikasi beliau yang kini diamanahkan kepada keluarga, cucu, dan perusahaan pendukungnya, menjadi bukti bahwa tenis bagi beliau bukanlah sekadar urusan memukul bola. Ini adalah kawah candradimuka bagi pembentukan karakter. Beliau memahami betul bahwa kedisiplinan dan daya juang di lapangan tenis memiliki benang merah yang sangat kuat dengan ketangguhan mental di kehidupan nyata.
Evolusi Format: Ketika Sports Science Berbicara
Satu hal yang paling radikal dan patut diapresiasi dari edisi ke-43 ini adalah transformasi sistem pertandingan. Dari yang awalnya bertumpu pada format Knock-Out (sistem gugur), kini beralih menjadi Round Robin (setengah kompetisi) atas rekomendasi ITF. Di atas kertas, ini mungkin terlihat seperti perubahan teknis biasa. Namun dari kacamata sports science, ini adalah lompatan besar dalam metodologi pembinaan atlet.
Dalam sistem gugur, seorang petenis junior usia 10 atau 12 tahun yang kalah telak di babak pertama akan langsung angkat koper, kehilangan peluang berharga untuk mengevaluasi gameplay-nya. Padahal, pada kelompok usia emas pembinaan (usia 8 hingga 16 tahun), aspek neuroplasticity—kemampuan otak dan sistem saraf untuk membentuk memori otot (motor learning) dan adaptasi taktik—sedang berada di masa puncaknya.
Dengan sistem Round Robin, setiap atlet dijamin bertanding minimal dua kali melawan gaya permainan yang berbeda. Ini memberikan data point yang jauh lebih kaya bagi pelatih. Mereka bisa mengukur ketahanan kardiovaskular atlet di pertandingan beruntun, mengamati kemampuan recovery tubuh terhadap penumpukan asam laktat antar-sesi, hingga melatih fleksibilitas taktis saat sang atlet menghadapi tekanan psikologis yang fluktuatif. Tidak heran jika sistem baru ini menuai apresiasi luas, khususnya dari sekitar 150 atlet mancanegara asal 20 negara yang rela terbang melintasi benua demi mematangkan jam terbang mereka di sini.
Ekosistem Terintegrasi di Lima Titik Surabaya
Menampung lebih dari 550 petenis nasional dan internasional tentu bukan perkara logistik biasa. Dibutuhkan manajemen infrastruktur olahraga yang presisi. Lima venue strategis di Surabaya telah disiapkan secara simultan: Lapangan Tenis Unesa Lidah Wetan (sebagai Center Court ITF), Kodam V Brawijaya, Marinir Gunung Sari, PDAM, dan Pratama. Pemilihan Unesa sebagai pusat kegiatan ITF pun sangat selaras, mengingat lingkungan akademis ini dekat dengan fasilitas penunjang sports science yang mumpuni.
Tepat pada 28 September 2026, pukul 09.00 WIB, grand opening di Lapangan Kodam V Brawijaya yang rencananya dibuka oleh Ketua Umum PP PELTI, Prof. Nurdin Halid, akan menjadi peluit dimulainya pertempuran stamina dan strategi ini. Dukungan proteksi keamanan dari aparat kepolisian dan pemerintah daerah memastikan iklim kompetisi berjalan dengan standar kenyamanan global.
Investasi Menuju Puncak Prestasi
Apa yang bergulir di lapangan-lapangan Surabaya ini adalah investasi jangka panjang. Menghadapi regulasi ketat seperti pembatasan batas usia maksimal 25 tahun bagi atlet Pekan Olahraga Nasional (PON), ekosistem kompetisi usia dini yang konsisten seperti Widjojo Soejono adalah jawaban paling konkret untuk menyiapkan regenerasi.
“Sukses Organisasi, Sukses Prestasi.” Jargon ini bukan sekadar pemanis briefing panitia. Di balik gemuruh pukulan forehand para junior, ada mesin organisasi yang bekerja di belakang layar untuk terus mendorong eksposur dan publikasi harian. Tujuannya satu: memastikan bahwa nilai-nilai sejarah, kedisiplinan, dan pendekatan ilmu olahraga dari turnamen ini tersampaikan ke masyarakat luas.
Sebab dari pukulan-pukulan di turnamen bersejarah inilah, bibit-bibit raket masa depan Indonesia sedang ditempa.(RFF)


