Senin, Februari 9, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Lamongan Jadi Pusat Perjumpaan Budaya: Festival Adat Budaya Nusantara 2025, Deklarasi Kekuatan Sejati UMKM dan Kesenian Tradisional!

PrameswaraFM – Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, baru saja mengukir sejarah sebagai tuan rumah Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) ke-V tahun 2025. Alun-Alun Lamongan bergemuruh, menjadi pusat perjumpaan raja, lembaga adat, dan pegiat seni dari Sabang sampai Merauke. Peristiwa kolosal yang digelar pada 18 Oktober 2025 ini bukan sekadar perayaan kesenian; ini adalah deklarasi kuat tentang pentingnya melestarikan warisan budaya, memperkuat solidaritas budaya Nusantara, dan yang terpenting, menciptakan multiplier effect bagi ekonomi kreatif dan pariwisata Lamongan.

Momen ini memicu pertanyaan kritis: bagaimana Lamongan memanfaatkan soft power budaya untuk menggerakkan sektor ekonomi, dan apa saja aset kesenian lokal yang layak menjadi sorotan di panggung nasional?


FABN V: Menggali Filosofi dan Memperkuat Identitas Bangsa

Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) adalah forum penting untuk mengukuhkan identitas budaya kolektif Indonesia. Kepercayaan sebagai tuan rumah bagi FABN ke-V merupakan pengakuan atas komitmen Pemkab Lamongan dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lokalnya.

  • Fungsi Budaya dan Ekonomi: Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menegaskan bahwa festival ini memiliki dua dimensi penting: memperkuat identitas budaya dan memberikan multiplier effect yang signifikan bagi ekonomi kreatif lokal, seniman, dan pelaku UMKM Lamongan.
  • Ruang Interaksi Raja dan Lembaga Adat: Kehadiran raja dan perwakilan lembaga adat dari seluruh Indonesia menjadikan Lamongan sebagai pusat interaksi dan dialog budaya, menciptakan jaringan yang sangat penting untuk pelestarian warisan bangsa.
  • Warisan Budaya Lamongan yang Berharga: Lamongan memiliki kekayaan budaya yang beragam, yang turut disajikan dalam festival. Kesenian ini termasuk Tari Boran (tarian kolosal yang merefleksikan aktivitas penjual nasi boran), Musik Tongklek (musik patrol tradisional khas Pantura), dan tradisi unik lainnya seperti Mendhak Sanggring. Kesenian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai naratif.

Batik dan Ekonomi Kreatif: Menjaring Kreativitas Lokal

Di tengah rangkaian FABN, turut diumumkan pemenang Lomba Desain Batik 2025 yang diselenggarakan oleh Dekranasda Kabupaten Lamongan. Lomba ini bertujuan menjaring motif-motif batik ikonik yang terinspirasi dari kekayaan Lamongan, seperti yang telah dilakukan sebelumnya dengan motif lele dan kuliner khas.

  • Peran Kritis Batik: Batik adalah jembatan antara seni dan ekonomi. Desain batik yang menang akan menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi, yang diproduksi oleh UMKM Lamongan. Ini adalah langkah nyata untuk memajukan ekonomi kreatif daerah, mengubah aset budaya menjadi aset finansial.

Visi Jangka Panjang: Budaya sebagai Motor Pariwisata Lamongan

Keberhasilan Lamongan menyelenggarakan Festival Adat Budaya Nusantara menjadi fondasi penting bagi pengembangan pariwisata budaya. Beberapa upaya lain yang dilakukan Lamongan, seperti Festival Kupatan Tanjung Kodok (tradisi peninggalan Sunan Sendang Dhuwur) dan kegiatan seni lokal lainnya (seperti seni pencak silat), menunjukkan bahwa Lamongan serius mengintegrasikan budaya sebagai daya tarik wisata.

Melalui event sebesar FABN, Lamongan berhasil memperluas ruang interaksi budaya, menggerakkan seniman, dan membuka peluang baru bagi UMKM. Komitmen untuk menjaga dan mengembangkan budaya Nusantara ini adalah kekuatan utama Lamongan untuk menyambut generasi mendatang. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles