Minggu, Maret 8, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

27 Desember 2025: Refleksi Ganda Antara Trauma Pandemi dan “Kemerdekaan” yang Sesungguhnya

PrameswaraFM – Tanggal 27 Desember seringkali berlalu begitu saja di kalender kita, tertutup oleh euforia libur Natal dan persiapan pesta Tahun Baru. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, tanggal ini memuat dua momentum raksasa yang membentuk nasib manusia modern dan sejarah bangsa Indonesia: Hari Kesiapsiagaan Epidemi Internasional dan Penyerahan Kedaulatan Belanda kepada Indonesia.

Di tahun 2025 ini, mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk liburan untuk memahami dua peringatan vital ini dengan kacamata yang lebih kritis.

1. Hari Kesiapsiagaan Epidemi Internasional: Bukan Sekadar Seremonial PBB

Peringatan pertama bersifat global. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 27 Desember sebagai International Day of Epidemic Preparedness.

  • Penetapan ini lahir dari trauma kolektif dunia terhadap pandemi COVID-19 yang meluluhlantakkan tatanan global pada 2020. Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/75/27 menjadi landasannya.
  • Di tahun 2025 ini, apakah kita sudah benar-benar siap? Atau kita mulai lupa? Peringatan ini adalah “alarm” tahunan untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya One Health Approach—integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
  • Virus tidak mengenal batas negara. Kesiapsiagaan bukan hanya soal menimbun masker, tapi soal investasi pada riset sains, sistem kesehatan yang tangguh (resilient health systems), dan solidaritas global. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama seperti awal 2020.

2. 27 Desember 1949: Momen “De Jure” yang Sering Terlupakan

Bagi bangsa Indonesia, 27 Desember adalah tanggal sakral yang sering kalah pamor dibandingkan 17 Agustus. Padahal, inilah hari di mana Belanda secara resmi “menyerah” dan mengakui kedaulatan Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949, terjadi peristiwa bersejarah yang disebut Penyerahan Kedaulatan (Belanda menyebutnya Soevereiniteitsoverdracht) sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB). Upacara berlangsung di dua tempat sekaligus:

Di Amsterdam (Paleis op de Dam): Ratu Juliana menyerahkan naskah pengakuan kedaulatan kepada Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta.

Di Jakarta (Istana Merdeka): Wakil Tinggi Mahkota Belanda, A.H.J. Lovink, menyerahkan wewenang kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

    Mengapa tanggal ini penting? Karena pada 17 Agustus 1945, kita memproklamasikan kemerdekaan secara de facto dan politis, namun Belanda (dan dunia internasional secara umum) baru mengakui kedaulatan kita secara hukum internasional penuh (de jure) pada 27 Desember 1949.Selama periode 1945-1949, darah tertumpah dalam Agresi Militer I dan II. Tanggal 27 Desember 1949 menandai berakhirnya perang revolusi fisik dan kembalinya tentara Belanda ke negerinya.

    3. HUT Kodam Jaya (Komando Daerah Militer Jayakarta)

    Bagi warga Jakarta, 27 Desember juga diperingati sebagai hari lahirnya Kodam Jaya.

    Berawal dari pembentukan Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKB-DR) pada 24 Desember 1949, yang kemudian disahkan pelaksanaannya pada 27 Desember 1949. Pasukan ini memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ibu kota negara sejak masa transisi kemerdekaan hingga era modern Jakarta sebagai kota global saat ini.

    Belajar dari Masa Lalu untuk Masa Depan

    Tanggal 27 Desember 2025 bukan sekadar angka di kalender. Ia mengajarkan kita dua hal fundamental:

    1. Ketahanan Biologis: Kita harus selalu waspada terhadap ancaman wabah penyakit demi kelangsungan spesies manusia.
    2. Ketahanan Nasional: Kita harus menghargai diplomasi dan perjuangan para pendiri bangsa yang memastikan merah putih berkibar tanpa gangguan asing.

    Jadikan hari ini sebagai momentum edukasi bagi generasi muda, bahwa kemerdekaan dan kesehatan adalah aset yang mahal harganya.(RFF)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Popular Articles