PrameswaraFM – Nama Kabupaten Lamongan kembali berkibar di kancah nasional. Bukan dari lapangan hijau sepak bola atau festival kuliner, kali ini prestasi prestisius datang dari lorong sunyi sejarah dan literasi. Diaz Nawaksara, putra asli Lamongan, resmi dinobatkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 seperti dikutip dari beritajatim.com
Penghargaan yang diserahkan di Jakarta ini bukan sekadar plakat seremonial. Ini adalah pengakuan tertinggi negara terhadap individu yang berdedikasi “gila” menjaga warisan nenek moyang yang nyaris punah: Manuskrip Kuno.
Siapa Diaz Nawaksara? Sosok Penjaga “Ingatan” Bangsa
Bagi masyarakat awam, nama Diaz mungkin belum sepopuler pemain Persela. Namun di kalangan akademisi dan pegiat sejarah, Diaz adalah aset langka.
Diaz dikenal sebagai seorang Filolog Muda.
Apa itu Filolog? Sederhananya, mereka adalah “detektif teks”. Tugasnya membaca, menerjemahkan, dan membedah naskah-naskah kuno (seperti Babad, Serat, atau Hikayat) yang ditulis di atas daun lontar, dluwang, atau kertas Eropa kuno. Tanpa mereka, sejarah kita hanya akan menjadi dongeng tanpa bukti tertulis.
Diaz konsisten menggeluti dunia ini melalui komunitas dan lembaga Nawaksara, yang fokus pada digitalisasi dan alih aksara naskah-naskah Nusantara.
Mengapa Penghargaan Ini Krusial?
Kemenangan Diaz di AKI 2025 memberikan tamparan positif sekaligus kritik bagi pola pikir kita:
- Melawan Tren “Ahistoris”: Di era di mana Gen Z lebih akrab dengan TikTok daripada Babad Tanah Jawi, kehadiran Diaz membuktikan bahwa milenial masih peduli pada akar identitasnya. Ia mematahkan stigma bahwa naskah kuno itu “klenik” atau membosankan.
- Pentingnya Digitalisasi: Salah satu poin keunggulan Diaz adalah upayanya membawa naskah kuno ke ranah digital. Jika naskah fisik bisa hancur dimakan rayap, data digital akan abadi. Inilah yang disebut Kedaulatan Data Kebudayaan.
Kritik untuk Pemkab Lamongan
Prestasi Diaz di level nasional ini harus menjadi wake-up call bagi Pemerintah Kabupaten Lamongan.
Seringkali, putra daerah yang berprestasi di Jakarta hanya mendapatkan ucapan selamat di baliho atau spanduk, tanpa ada dukungan konkret terhadap ekosistem yang mereka bangun.
Bisakah Pemkab Lamongan (lewat Disparbud) berkolaborasi dengan Diaz untuk membuat Museum Naskah Lamongan atau kurikulum muatan lokal yang lebih fresh? Jangan biarkan Diaz berjuang sendirian di “jalan sunyi” ini sementara pemda hanya memanen nama harumnya.
Inspirasi untuk “Laskar Joko Tingkir” Muda
Diaz Nawaksara membuktikan bahwa menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata atau mencetak gol. Menyelamatkan selembar daun lontar berisi sejarah leluhur adalah bentuk patriotisme yang nyata di era modern. (RFF)



