Jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lamongan meningkat drastis. Tahun lalu tercatat ada 735 PMI yang mencari pundi-pundi rejeki ke luar negeri. Angka tersebut lebih tinggi dari Tahun 2021, yang hanya ada 41 PMI.

Peningkatan drastis jumlah PMI terjadi di triwulan akhir tahun lalu. Yakni pada Bulan Oktober terdapat 104 PMI, November sebanyak 126 PMI, dan Desember 117 PMI.

Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinaker Lamongan Arif Soedjanarta menjelaskan, kenaikan jumlah PMI yang cukup signifikan dipengaruhi melandainya kasus Covid-19.

Sehingga, sejumlah negara membuka kembali keran tenaga asing dari Indonesia. Termasuk Malaysia yang sudah membuka kembali sejak Bulan Juli tahun lalu.

‘’Karena terbesar penempatan di Malaysia,’’ tutur Arif, sapaan akrabnya, Minggu (1/1).

Negara penempatan PMI tahun lalu meliputi Malaysia 473 PMI, Taiwan 176 PMI, Hongkong 31 PMI, Korea Selatan 26 PMI, Polandia 15 PMI, dan sisanya tersebar pada sejumlah negara.

‘’Sedangkan jika berdasarkan kecamatan, PMI terbanyak dari Kecamatan Solokuro sebanyak 150 PMI. Disusul Paciran sebanyak 97 PMI dan Brondong 85 PMI. Sisanya tersebar di kecamatan lainnya,’’ ujarnya.

Arif mengakui jika tiga kecamatan tersebut selalu menjadi penyumbang terbanyak PMI. Hal itu dipengaruhi oleh banyak keluarga yang di sana, yang membuat kedekatan emosional kekerabatan.

‘’Kebanyakan kerja dibagian sektor bangunan,’’ ucapnya.

Disnaker Lamongan mendata PMI terbanyak dari lulusan SMA sebanyak 361 PMI, SD sebanyak 133 PMI, dan sarjana hanya 7 PMI.

Arif menilai, peningkatan jumlah PMI ini bisa memulihkan kembali ekonomi dan mengurangi pengangguran. Sebab, diakuinya, warga yang hanya lulusan SMA bisa mendapatkan gaji hingga Rp 10 juta di luar negeri.

‘’Taraf hidup bisa meningkat dan keluarganya bisa bekerja di sana,’’ imbuhnya.

Dia mengatakan, yang perlu diperhatikan menjadi PMI yakni harus sesuai prosedur dan legal. Sehingga, lanjut dia, PMI tersebut mendapatkan perlindungan mulai berangkat, saat bekerja, hingga ketika hendak pulang kembali ke Indonesia.

Anggota Komisi A DPRD Lamongan Ali Mahfudl menuturkan, dulu menjadi pekerja di luar negeri mampu menopang perekonomian para PMI.

Namun, Ali mengaku mendapatkan curhatan yang cukup miris dari PMI saat berkunjung ke Malaysia awal bulan lalu. Yakni, biaya perpanjangan permit atau sejenis ijin kerja sangat mahal.

PMI harus pintar-pintar membagi penghasilan untuk mengirim uang ke kampung halaman dan mengurus perpanjangan permit.

Dan meminta Pemkab Lamongan perlu mengantisipasi ini dengan mulai melakukan pemetaan potensi masing-masing daerah. Sehingga, warga diberikan pelatihan agar bisa menopang kehidupan secara mandiri ditempat asal masing-masing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini