PrameswaraFM – Masjid Tiban Sendang Duwur di Paciran, Lamongan, adalah salah satu masjid tertua di Jawa Timur. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini menyimpan legenda yang memikat dan arsitektur yang kaya nilai budaya. Tidak heran jika masjid ini menjadi destinasi unggulan wisata religi di Lamongan, terutama bagi pecinta sejarah dan arsitektur tradisional Jawa.
Legenda Masjid yang “Berpindah dalam Semalam”
Salah satu kisah paling terkenal dari masjid ini adalah legenda pemindahannya. Menurut cerita rakyat, masjid ini berasal dari Mantingan, Jepara milik Ratu Kalinyamat. Sunan Sendang Duwur, tokoh penyebar Islam di Lamongan, disebut memindahkannya ke bukit Sendang Duwur dalam satu malam dan tanpa suara.
Masyarakat percaya kejadian ini terjadi melalui karomah Sunan. Walaupun sulit diverifikasi secara historis, legenda ini tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat sekitar.
Sejarah Masjid Sendang Duwur dari Abad ke-16
Di luar legendanya, terdapat catatan sejarah yang kuat. Prasasti kayu di masjid mencatat bahwa bangunan ini selesai pada tahun 1561 Masehi. Ini menempatkan Masjid Sendang Duwur pada masa transisi penting antara runtuhnya Kesultanan Demak dan munculnya Kerajaan Pajang.
Beberapa fakta historis penting:
Masjid ini merupakan salah satu situs dakwah pesisir yang dipengaruhi aktivitas perdagangan Pantura.
Sunan Sendang Duwur (Raden Noer Rahmat) adalah figur kunci penyebaran Islam di wilayah Lamongan.
Kompleksnya terus dirawat oleh masyarakat lokal dan menjadi pusat kegiatan keagamaan hingga sekarang.
Keunikan Arsitektur: Akulturasi Hindu–Jawa–Islam
Keunggulan lain dari Masjid Tiban Sendang Duwur adalah arsitekturnya. Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah; ia adalah karya seni yang memadukan elemen budaya Hindu, Buddha, dan Islam dalam satu ruang.
1. Gapura Paduraksa Khas Majapahit
Bangunan pintu masuk menggunakan model gapura paduraksa—gaya arsitektur candi era Majapahit. Ukirannya detail dengan motif klasik Jawa, sesuatu yang jarang ditemui pada masjid modern.
2. Atap Limasan Tradisional
Masjid ini tidak menggunakan kubah seperti masjid Timur Tengah. Sebaliknya, ia memakai atap limasan bertingkat, mirip dengan Masjid Agung Demak atau masjid-masjid peninggalan Wali Songo.
3. Pintu dan Ukiran Kayu Jepara
Seni ukir pada pintu masjid menunjukkan pengaruh Jepara abad ke-16. Ini sejalan dengan legenda hubungan antara Ratu Kalinyamat dan Sunan Sendang Duwur.
Elemen-elemen ini menjadikan masjid ini contoh nyata akulturasi budaya Jawa dalam penyebaran Islam.
Kompleks Makam Sunan Sendang Duwur: Pusat Ziarah Pesisir Utara
Di area masjid, terdapat komplek makam Sunan Sendang Duwur yang menjadi tujuan ziarah masyarakat Lamongan, Tuban, Gresik, hingga kawasan pesisir lainnya. Tradisi ziarah ini memperkuat nilai spiritual kawasan Sendang Duwur sekaligus menjadi bagian dari wisata religi yang terus hidup hingga hari ini.
Kenapa Masjid Sendang Duwur Layak Dikunjungi?
Masjid ini bukan hanya landmark sejarah, tapi juga:
Tempat terbaik melihat jejak akulturasi budaya Jawa–Islam secara nyata
Lokasi dengan pemandangan bukit yang sejuk dan indah
Destinasi edukatif bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan
Ruang untuk merasakan atmosfer religius dan sejarah yang masih terjaga
Masjid Sendang Duwur adalah bukti bahwa Islam di Jawa berkembang dengan pendekatan lembut: merangkul budaya lokal, bukan menggantikannya.
Baik Anda seorang peziarah, pecinta sejarah, atau sekadar wisatawan yang ingin melihat sesuatu yang berbeda, Masjid Tiban Sendang Duwur menawarkan pengalaman yang kaya nilai. Di sini, legenda dan sejarah berjalan berdampingan, menghadirkan warisan budaya yang terus hidup hingga hari ini. (EQ)



