Kamis, Oktober 29, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Kirab Budaya Lamongan Masih Lesu, Saatnya Belajar dari Jember

Prameswara FM – Kirab budaya yang seharusnya menjadi etalase kebanggaan lokal di Kabupaten Lamongan, justru masih belum mampu menarik perhatian luas dari masyarakat. Setiap kali digelar, acara tersebut cenderung sepi peminat dan minim gaung di ruang publik. Pertanyaannya: di mana letak persoalannya?

Tentu tidak adil jika langsung membandingkan Lamongan dengan kota besar seperti Surabaya. Namun jika kita menengok Jember, sebuah kabupaten dengan struktur wilayah dan potensi yang tidak jauh berbeda, kita akan menemukan pelajaran berharga. Jember sukses membuktikan bahwa kirab budaya bisa menjadi event kelas dunia. Melalui Jember Fashion Carnaval (JFC), kabupaten itu menciptakan suguhan budaya yang tak hanya memikat warga lokal, tapi juga wisatawan nasional hingga mancanegara.

Kesenjangan yang Terlihat

Keberhasilan JFC tak datang tiba-tiba. Acara ini memiliki identitas budaya yang kuat, dengan tema yang konsisten dan penampilan yang artistik. JFC menggabungkan seni, fashion, dan kreativitas lokal dalam format pertunjukan jalanan yang memukau. Bandingkan dengan Lamongan, yang hingga kini belum memiliki tema atau narasi kirab yang khas.

Selain itu, JFC berdiri di atas fondasi dukungan pemerintah yang kuat dan berkelanjutan. Ada komitmen jangka panjang, pendanaan, serta strategi promosi nasional. Sementara di Lamongan, kirab budaya masih terkesan insidental—dilaksanakan sekadar menggugurkan kewajiban atau memperingati hari besar, tanpa visi jangka panjang.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah keterlibatan generasi muda dan komunitas kreatif. Di Jember, pelajar, desainer, dan seniman lokal dilibatkan aktif. Mereka merasa menjadi bagian dari panggung budaya. Sementara di Lamongan, acara kirab masih cenderung bersifat seremonial dan tradisional, kurang memberi ruang ekspresi bagi kreativitas generasi muda.

Saatnya Berubah

Lamongan sebenarnya tidak kekurangan potensi budaya. Jejak sejarah kerajaan, warisan tokoh besar seperti Sunan Drajat, dan kekayaan kuliner serta tradisi pesisir adalah modal besar yang belum tergarap maksimal.

Jika ingin mengejar ketertinggalan, maka transformasi harus dimulai dari sekarang. Berikut langkah-langkah konkret yang bisa diambil:

Bangun Identitas dan Tema Khas

Tentukan narasi tahunan yang kuat, yang menggambarkan kekayaan budaya Lamongan.

Gunakan sejarah, lokalitas, dan ikon daerah sebagai materi utama kirab.

Libatkan Generasi Muda

Buat program lomba desain kostum, pelatihan tari kreasi, dan workshop kreatif.

Libatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas seni sejak tahap perencanaan.

Perkuat Branding dan Promosi

Ciptakan nama dan logo event yang mudah diingat, seperti Lamongan Culture Parade.

Gandeng media sosial, influencer lokal, dan media mainstream untuk promosi masif.

Tingkatkan Kualitas Produksi

Libatkan event organizer profesional untuk mengelola parade, tata panggung, hingga visual artistik.

Sediakan fasilitas yang nyaman bagi penonton dan peserta.

Bangun Ekosistem Kolaboratif

Terapkan pendekatan pentahelix: pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media harus bersinergi.

Jadikan kirab budaya sebagai bagian dari pembangunan ekonomi kreatif.

Kaitkan dengan Wisata dan UMKM

Sertakan zona UMKM, kuliner lokal, dan promosi wisata saat acara berlangsung.

Integrasikan dengan potensi unggulan seperti Wisata Bahari Lamongan dan situs religi.

Susun Roadmap dan Evaluasi Berkala

Buat perencanaan 3–5 tahun, dengan target yang jelas dan tahapan peningkatan mutu.

Lakukan evaluasi rutin dan peningkatan kapasitas SDM penyelenggara.

Masyarakat Menunggu Aksi Nyata

Kirab budaya bukan sekadar pawai. Ia adalah cermin semangat dan jati diri sebuah daerah. Jika Lamongan terus membiarkannya berjalan datar, maka jangan salahkan masyarakat jika tidak lagi peduli. Tetapi jika kirab budaya dikelola dengan semangat baru, kreativitas, dan profesionalisme, bukan tidak mungkin Lamongan akan menjadi panggung budaya yang dinanti setiap tahun.

Kini saatnya pemangku kebijakan, pelaku seni, dan warga bersatu untuk menghidupkan kembali roh budaya Lamongan. Sebab budaya yang hidup adalah budaya yang menyatu dengan rakyatnya. (Eqi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles