PrameswaraFM – Stereotip jurnalis yang “kurang gerak” karena terjebak deadline dan duduk berjam-jam di depan layar, tampaknya harus segera kita revisi di tahun 2026 ini. Ada korelasi kuat antara kesehatan fisik jurnalis dengan kualitas informasi yang mereka sajikan. Dalam perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 sekaligus HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), PWI Lamongan tidak memilih seminar kaku, melainkan Lomba Senam Kreasi seperti dikutip dari beritajatim.com. Mengapa ini brilian? Secara sains, gerakan ritmik bukan sekadar olahraga, tapi “nutrisi” bagi hippocampus otak kita.
PWI Kabupaten Lamongan mendobrak rutinitas seremonial dengan menggelar Lomba Senam Kreasi yang melibatkan masyarakat luas, mulai dari instansi pemerintah hingga komunitas umum. Acara ini menjadi highlight dari rangkaian peringatan HPN yang jatuh pada 9 Februari.
Ketua PWI Lamongan (berdasarkan struktur organisasi terkini di 2026) menegaskan bahwa di usia PWI yang ke-80—sebuah angka yang matang—semangat “Energi Positif” harus ditularkan. Pers tidak hanya bertugas mengkritisi, tetapi juga memobilisasi masyarakat untuk hidup sehat. Sinergi ini terlihat jelas dari antusiasme peserta yang memadati venue (biasanya GOR atau Alun-alun Lamongan), mengubah wajah serius pers menjadi wajah yang humanis dan dinamis.
Mengapa Senam Kreasi? Berdasarkan jurnal Sports Medicine, aktivitas aerobik ritmik seperti senam kreasi memiliki dampak ganda:
- Neurogenesis: Gerakan kompleks yang mengharuskan peserta mengingat koreografi ternyata merangsang pertumbuhan sel otak baru, meningkatkan fokus dan memori. Ini simbolis bagi pers yang harus selalu tajam dan faktual.
- Social Cohesion (Kohesi Sosial): Bergerak bersama dalam satu irama (sinkronisasi) secara psikologis meningkatkan rasa kebersamaan dan menurunkan ego individual. Ini adalah metafora sempurna bagi hubungan antara Media dan Masyarakat—harus seirama untuk membangun Lamongan.
- Hormonal Balance: Senam memicu pelepasan endorphin dan dopamine. Jurnalisme yang sehat lahir dari jurnalis yang bahagia, bukan yang tertekan.
Di era digital 2026 ini, di mana hoaks seringkali lebih cepat menyebar daripada virus, ketahanan mental insan pers diuji. PWI Lamongan menyadari bahwa mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat) bukan sekadar slogan kuno. Kegiatan ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa PWI Lamongan adalah organisasi yang inklusif, merangkul elemen masyarakat tidak hanya lewat tulisan, tapi lewat keringat dan tawa bersama.
Jadi, Lomba Senam Kreasi ini bukan sekadar ajang cari juara. Ini adalah pernyataan sikap bahwa PWI Lamongan siap mengawal 80 tahun perjalanannya dengan stamina prima dan kreativitas tanpa batas. Bagi Kawan Dengar yang melihat mereka beraksi, ingatlah: di balik gerakan lincah itu, ada semangat untuk terus menyuarakan kebenaran bagi kita semua. (RFF)



