Senin, Februari 9, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Editorial : HABIS DRAKOR TERBITLAH DRACIN

Oleh Penulis Tamu :

Dhahana Adi Pungkas, Academic dan Urban Cultural Interpreter

Dimas Ramadhiansyah, Fandom Cultural Researcher 

Dalam satu dekade terakhir, tingginya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap drama Korea (drakor) dan drama China (dracin) menunjukkan gejala sosial yang menarik untuk dikaji. Budaya populer tersebut tidak hanya dikonsumsi sebagai hiburan semata, tetapi mulai memengaruhi gaya hidup, pola bahasa, identitas, serta relasi sosial masyarakat, terutama generasi muda. Gejala ini sering disebut sebagai latah sosial, yakni tindakan meniru fenomena budaya yang sedang menjadi tren secara cepat dan masif. 

Menariknya, fenomena latah ini tidak hanya menunjukkan ketertarikan masyarakat kepada budaya asing tertentu saja, melainkan juga memperlihatkan bagaimana masyarakat mengonstruksi kembali versi dirinya melalui apa yang mereka tonton. Drakor dan dracin sering kali menjadi cermin aspirasi sekaligus pelarian dari ketegangan hidup sehari-hari (coping mechanism), sehingga peniruannya tidak sekadar spontan, tetapi berakar pada kebutuhan akan imajinasi dan identitas baru masyarakat.

KULTUR KOMUNAL INDONESIA

Dalam konteks sosioanstropologis, latah sosial dipandang sebagai suatu proses imitasi, difusi budaya, serta pembentukan identitas melalui media. Hal ini seiring dengan pernyataan seorang sosiolog Gabriel Tarde yang menyatakan bahwa seluruh kehidupan sosial pada dasarnya adalah imitasi, dan masyarakat terdorong untuk meniru mereka yang dianggap lebih prestisius. Sehingga drakor dan dracin dengan estetika visual dan narasi emosionalnya, menjadi objek imitasi yang kuat. Sebagai masyarakat kolektif, Indonesia memiliki kecenderungan peer conformity yang diperkuat oleh perasaan FOMO (Fear of Missing Out). 

Ketika drakor atau dracin menjadi tren, masyarakat merasa perlu mengikuti agar tidak tersisih dari percakapan sosial. Dalam hal ini, tindakan masyarakat tidak lagi hanya karena kesukaan personal mereka, namun juga menjadi sebuah strategi baru agar tetap dipandang relevan dalam mengikuti arus budaya utama di mata kelompok masyarakat. Menonton drama yang sedang viral menjadi bentuk kode budaya baru yang menentukan apakah seseorang dianggap update atau tertinggal.

DOMINASI MEDIA DAN ALGORITMA

Media memainkan peran penting dalam memperluas fenomena ini. Potongan adegan dalam platform streaming dan media sosial seperti TikTok dan Instagram menampilkan konten berdasarkan popularitas. Algoritma menciptakan ilusi kebutuhan untuk menonton agar tidak tertinggal. Ini sejalan dengan konsep mediascape yang dikemukakakan oleh Ajun Appadurai dalam bukunya “Modernity at Large”, menyatakan bahwa media global telah menciptakan lanskap imajiner yang memungkinkan individu membayangkan kehidupan lain yang dapat mereka tiru. Dengan kata lain, melalui aliran media global, masyarakat Indonesia terhubung dengan imajinasi lintas negara. 

Drakor dan dracin menjadi bagian dari cultural flows yang membentuk identitas baru. Pada titik ini, perlu kita akui bahwa algoritma bukan hanya memengaruhi pilihan tontonan, tetapi juga membentuk standar afeksi dan ekspektasi emosional. Banyak penonton merasakan tekanan untuk menonton cepat agar tidak terkena spoiler, atau mengikuti opini populer agar tidak bertentangan dengan arus percakapan digital. Media akhirnya tidak lagi menjadi media hiburan semata, namun telah menjadi mesin pembentuk ritme sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

ASPIRASI KELAS MENENGAH DAN ESTETIKA MODERNITAS

Chris Barker, seorang pengamat budaya populer menyatakan bahwa identitas dapat terciptakan melalui konsumsi simbol. Ia menyatakan bahwa identitas dalam budaya kontemporer dibentuk melalui konsumsi simbol-simbol budaya. Maka dalam hal ini, simbol budaya Korea/Tiongkok—seperti bahasa dan fesyen—drakor sering menampilkan kehidupan urban modern yang glamor, sementara dracin menyuguhkan estetika historis yang indah. 

Hal-hal tersebut lalu diadopsi sebagai bagian dari pencarian identitas modern kelas menengah. Drakor dan dracin hadir sebagai produk industri hiburan modern yang diproduksi dengan standar tinggi—dari estetika visual, alur cerita, hingga strategi pemasaran digital. Platform streaming memperluas akses, membuat drama dapat dikonsumsi kapan saja, dan menciptakan budaya binge-watching (marathon serial TV ataupun film).

PENGUATAN MELALUI FANDOM 

Melalui pendekatan convergence culture, seorang budayawan AS, Henry Jenkins menjelaskan bahwa fenomena drakor dan dracin saat ini menuntut peran aktif penggemar dalam pembentukan budaya, yang realitanya kini tidak lagi hanya “nrimo ing pandum” (dalam hal ini dapat disebutkan sebagai konsumen pasif). Hal ini dikarenakan fandom drakor dan dracin di Indonesia merupakan bentuk budaya partisipatoris yang menciptakan konten, komunitas, dan interaksi yang memperkuat latah sosial. Fandom pun pada akhirnya bertindak sebagai ruang sosial yang memfasilitasi produksi makna bersama, seperti nonton bareng, fanedit TikTok, fanart, dan diskusi teori drama.

Kyong Yoon dalam salah satu tulisannya “Between universes: Fan positionalities in the transnational circulation of K-pop” mengartikan bahwa praktik fandom lintas negara bukan hanya soal menikmati teks media dari budaya asing, tetapi juga tentang bagaimana penggemar merasa diberdayakan melalui pengalaman tersebut. Dalam hal ini, baik drakor maupun dracin, telah berubah menjadi medium untuk membayangkan kehidupan alternatif yang berbeda dari konteks lokal mereka sendiri. Penggemar akhirnya memiliki posisi imajiner yang menghubungkan imajinasi mereka dengan budaya global sekaligus memperluas pengalaman emosional yang tidak selalu dapat diperoleh dari lingkungan sosial lokal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles