PrameswaraFM – Memasuki awal tahun 2026, wajah industri energi terbarukan di Indonesia mengalami pergeseran dramatis. Jika satu dekade lalu minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) hanya dianggap sebagai limbah yang menyumbat selokan, kini komoditas tersebut resmi menyandang status sebagai “emas cair”. Lonjakan permintaan ini bukan tanpa alasan: tahun 2026 menandai dimulainya era baru industri aviasi hijau di tanah air.
Mandatori Bioavtur 2026: Pemicu Utama “Gold Rush”
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah resmi menetapkan target mandatori campuran Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur sebesar 3% pada tahun 2026. Kebijakan ini lebih progresif dibanding rencana awal dan menuntut ketersediaan bahan baku yang masif.
“Kita tidak lagi bicara tentang pembuangan limbah, tapi tentang ketahanan energi udara,” ujar salah satu analis kebijakan energi nasional. Dengan ribuan jadwal penerbangan domestik setiap harinya, kebutuhan akan jelantah sebagai campuran bahan bakar pesawat telah menciptakan ekosistem bisnis baru yang sangat menggiurkan.
Dari Dapur ke Langit: Sains di Balik Pengolahan
Secara ilmiah, transformasi minyak goreng bekas menjadi bahan bakar pesawat bukanlah proses sederhana. Riset terbaru dalam Chemical Engineering Journal (2025) menyoroti efisiensi proses HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids).
Teknologi ini mampu memutus rantai karbon kompleks pada jelantah menjadi hidrokarbon yang identik dengan avtur fosil, namun dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah. Di Indonesia, PT Kilang Pertamina Internasional telah mengoptimalkan teknologi co-processing di Kilang Cilacap dan berencana melakukan uji coba penuh di Kilang Balongan pada Maret 2026 mendatang.
Selain itu, penggunaan katalis hijau yang diekstrak dari limbah biomassa (seperti kulit buah atau cangkang kerang) kini menjadi standar baru untuk menekan biaya produksi hingga 15%, membuat harga bioavtur semakin kompetitif dibandingkan avtur murni.
Model Bisnis 2026: Agregator Digital dan Ekonomi Sirkular
Peluang bisnis di tahun 2026 tidak lagi terbatas pada pabrik besar. Model bisnis Agregator Greentech menjadi primadona. Startup pengumpul jelantah kini menjamur, menggunakan aplikasi berbasis IoT untuk memantau volume jelantah di restoran-restoran besar secara real-time.
Di sisi lain, sektor UMKM mulai melirik skema Circular Economy. Di beberapa daerah di Jawa Timur, komunitas pengumpul jelantah berhasil menjalin kontrak suplai langsung dengan perusahaan eksportir yang melayani pasar Uni Eropa, di mana harga jelantah bersertifikasi ISCC (International Sustainability & Carbon Certification) bisa mencapai Rp11.000 hingga Rp13.000 per liter.
Tantangan dan Edukasi Publik
Meski menguntungkan, tantangan terbesar di tahun 2026 adalah stabilitas suplai. Data menunjukkan bahwa baru sekitar 20-30% limbah jelantah rumah tangga yang berhasil dikumpulkan secara terorganisir. Sisanya masih berakhir di saluran air atau, yang lebih berbahaya, disuling kembali menjadi minyak goreng oplosan.
Edukasi publik menjadi kunci. Mengolah kembali minyak jelantah bukan hanya soal profit, melainkan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas. “Masyarakat perlu tahu bahwa tiap liter jelantah yang mereka simpan bisa membantu pesawat terbang lebih bersih,” tambah para pegiat lingkungan.
Menuju Hub Bioavtur Regional
Dengan kebijakan mandatori yang sudah berjalan dan riset teknologi yang kian matang, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin pasar SAF di Asia Tenggara. Bagi pelaku usaha, tahun 2026 adalah momentum yang tepat untuk masuk ke rantai pasok energi hijau ini. (RFF)



