PrameswaraFM – Awal tahun 2026 menjadi ujian berat bagi saudara-saudara kita di kawasan Bonorowo atau daerah aliran sungai Bengawan Njero. Luapan air bukan lagi sekadar genangan, melainkan ancaman nyata bagi kehidupan dan ekonomi ribuan warga.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan per tanggal 12 Januari 2026, skala dampak banjir kali ini terbilang masif.
Mari kita bedah datanya bukan sekadar angka, tapi sebagai cerminan kondisi di lapangan:
- Dampak Hunian: Sebanyak 2.736 rumah terendam.
- Dampak Kemanusiaan: Total 3.024 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 10.672 jiwa merasakan langsung dampaknya. Mereka kini hidup di tengah kepungan air, dengan risiko kesehatan dan keterbatasan akses.
- Dampak Pendidikan: Proses belajar mengajar di 63 lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) terganggu, memaksa siswa belajar di tengah kondisi darurat atau bahkan diliburkan.
Sawah Berubah Jadi “Laut”
Yang paling mengkhawatirkan dari perspektif ekonomi dan ketahanan pangan daerah adalah dampaknya pada sektor agraris dan perikanan.
Data BPBD mencatat luasan 3.958 hektare (ha) sawah dan tambak terendam banjir. Bagi petani, ini adalah mimpi buruk. Tanaman padi yang terendam dalam waktu lama berisiko puso (gagal panen), sementara petambak harus merelakan ikan atau udang mereka hanyut terbawa arus.
Analisis Dampak Ekonomi: Jika diasumsikan produktivitas rata-rata padi di Lamongan sekitar 6-7 ton gabah kering panen per hektare, maka potensi kerugian ekonomi dari sektor pertanian saja bisa mencapai angka yang fantastis. Ini bukan hanya masalah petani kehilangan pendapatan, tapi juga ancaman stabilitas pasokan beras lokal dalam beberapa bulan ke depan.
Karangbinangun Paling Parah
Banjir tidak merata, ada wilayah yang menanggung beban lebih berat. Berdasarkan data BPBD, berikut adalah peta kerawanannya:
- Kecamatan Karangbinangun (Zona Merah): Menjadi wilayah terparah dengan 660 rumah dan 2.680 jiwa terdampak. Luasan sawah/tambak yang terendam di sini mencapai 1.283 ha, tertinggi se-Lamongan.
- Kecamatan Deket: Terdampak pada 696 rumah dengan jumlah jiwa lebih dari 3.000 orang.
- Kecamatan Kalitengah: Mencatat 604 rumah dan 2.229 jiwa terdampak.
- Kecamatan Turi: Sebanyak 640 rumah terendam.
- Kecamatan Glagah: Dampak relatif paling kecil dengan 137 rumah dan 663 jiwa.
Mengapa Karangbinangun dan wilayah sekitarnya (kawasan Bonorowo) selalu menjadi langganan banjir? Secara geografis, wilayah ini merupakan daerah cekungan yang posisinya lebih rendah dari muka air sungai Bengawan Solo maupun Bengawan Njero saat debit tinggi. Sistem pompa air dan normalisasi sungai menjadi kunci, namun seringkali kewalahan menghadapi curah hujan ekstrem.
Sinergi CSR untuk Bantuan Pangan
Data valid dari BPBD ini menjadi dasar strategis bagi Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk mengambil langkah cepat. Sadar bahwa APBD memiliki keterbatasan, Pemkab kini bergerak menggalang dukungan dari sektor swasta.
Data tersebut digunakan sebagai landasan pengajuan bantuan dana CSR (Corporate Social Responsibility) kepada perusahaan-perusahaan di Lamongan. Fokus utamanya adalah memenuhi kebutuhan dasar yang paling mendesak: pangan dan sembako bagi 10 ribu lebih warga yang terdampak.
Solidaritas Adalah Kunci
Banjir ini adalah ujian kolektif. Langkah Pemkab menggandeng CSR patut diapresiasi sebagai bentuk manajemen bencana yang kolaboratif. Namun, kita sebagai masyarakat juga tidak boleh berpangku tangan. Mari tunjukkan solidaritas Wong Lamongan. Donasi sekecil apapun, tenaga, atau sekadar doa, akan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang kini sedang berjuang di tengah kepungan air. (RFF)



