Rabu, Januari 21, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Siaga Nataru 2025: Disparbud Lamongan “Audit” Total Destinasi Wisata

PrameswaraFM – Hawa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 sudah di depan mata. Bagi pelaku industri pariwisata, ini adalah masa “panen raya”. Namun, bagi regulator, ini adalah fase kritis. Belajar dari berbagai insiden kecelakaan wahana wisata yang pernah terjadi di Jawa Timur beberapa tahun terakhir, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan tidak ingin mengambil risiko. Pengawasan super ketat kini diberlakukan di seluruh destinasi wisata unggulan Kota Soto ini.

Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan upaya preventif agresif untuk memastikan keselamatan ratusan ribu pelancong yang diprediksi akan membanjiri Jalur Pantura.

Fokus Utama: Uji Kelayakan Wahana & Standar K3

Kepala Disparbud Lamongan, Siti Rubikah, menegaskan bahwa pihaknya telah melayangkan surat edaran resmi kepada seluruh pengelola objek wisata. Isinya bukan imbauan kosong, melainkan instruksi teknis yang wajib dipatuhi.

Dalam perspektif Manajemen Risiko (Risk Management), fokus pengawasan ini sangat krusial, meliputi:

  1. Audit Kelayakan Wahana (Rides Safety Check): Wahana permainan yang melibatkan ketinggian dan kecepatan (seperti roller coaster atau kora-kora di WBL) wajib lolos uji teknis. Sama seperti kendaraan bermotor yang butuh servis berkala, mesin wahana juga mengalami “metal fatigue” atau kelelahan logam yang tidak terlihat mata telanjang.
  2. Penerapan CHSE: Kebersihan (Cleanliness), Kesehatan (Health), Keselamatan (Safety), dan Kelestarian Lingkungan (Environment Sustainability) bukan lagi opsi, tapi standar operasional prosedur (SOP) wajib.

Wisatawan Harus Cerdas, Pengelola Harus Jujur

Sebagai konsumen jasa pariwisata, masyarakat perlu diedukasi agar lebih kritis. Pengawasan pemerintah memiliki keterbatasan personel. Oleh karena itu, self-assessment dari wisatawan sangat penting.

  • Cek Fisik Sederhana: Jika melihat wahana yang berkarat parah atau mendengar suara mesin yang tidak wajar (kasar), jangan dipaksakan untuk naik.
  • Transparansi Harga: Salah satu penyakit musiman saat Nataru adalah praktik “getok harga” (menaikkan harga tiket/makanan/parkir secara tidak wajar). Disparbud Lamongan kali ini menekankan agar daftar harga dipampang jelas. Ini adalah bagian dari perlindungan konsumen.

Spotlight: WBL, Mazola, & Wisata Religi

Lamongan memiliki portofolio wisata yang lengkap. Titik berat pengawasan akan difokuskan pada high-traffic spot:

  • Wisata Bahari Lamongan (WBL) & Maharani Zoo (Mazola): Sebagai ikon wisata buatan terbesar di Pantura, standar keamanannya menjadi barometer bagi tempat lain.
  • Wisata Religi (Makam Sunan Drajat & Sunan Bonang): Potensi crowd management (pengaturan kerumunan) menjadi tantangan utama di sini, mengingat jalur peziarah yang seringkali sempit dan berdesakan.

Integrasi Lintas Sektoral: Tidak Bisa Kerja Sendiri

Keamanan wisata saat Nataru tidak bisa lepas dari faktor lalu lintas. Koordinasi Disparbud dengan Satlantas Polres Lamongan dan Dinas Perhubungan (Dishub) menjadi kunci. Titik macet di jalan raya Paciran (akses ke WBL) harus diantisipasi dengan rekayasa lalu lintas yang matang, bukan sekadar penempatan personel saat macet sudah terjadi.

Kenyamanan adalah Investasi Jangka Panjang

Langkah Disparbud Lamongan memperketat pengawasan patut diapresiasi. Pariwisata adalah bisnis kepercayaan (trust). Satu insiden kecelakaan saja bisa menghancurkan reputasi pariwisata daerah yang dibangun bertahun-tahun.

Bagi Anda yang berencana menghabiskan akhir tahun di Lamongan: Patuhi aturan, jaga keselamatan keluarga, dan jadilah wisatawan yang kritis. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles