PrameswaraFM – Data terbaru menunjukkan angka yang fantastis: 4,72 juta ton. Ini bukan sekadar angka statistik yang membosankan di atas kertas BPS. Ini adalah rekor tertinggi stok beras RI dalam tiga tahun terakhir. Namun, bagi jutaan ibu rumah tangga yang masih mengeluhkan harga di pasar, angka ini terasa hambar jika tidak dibarengi dengan stabilitas harga yang nyata di meja makan.
Mengapa 4,72 Juta Ton Itu Signifikan?
Jangan tertipu oleh retorika manis. Mari kita bicara data taktis. Angka 4,72 juta ton pada akhir April 2024 ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada April 2023, kita hanya punya 3,71 juta ton. Tahun sebelumnya lagi? Hanya 3,11 juta ton.
Kenaikan ini adalah hasil dari puncak panen raya yang masif. Petani kita bekerja keras, alam mendukung, dan hasilnya terlihat nyata di lumbung-lumbung kita. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah berasnya ada?”, melainkan “ke mana beras itu pergi dan siapa yang memegang kendalinya?”
Bulog Bukan Satu-satunya Pemain
Banyak orang salah kaprah mengira semua beras ini ada di gudang pemerintah. Salah besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), distribusi stok beras RI tersebar di banyak lini.
- Rumah Tangga (47,4%): Hampir separuh dari total stok ini ada di dapur-dapur warga dan lumbung desa. Ini adalah pertahanan pertama kita.
- Bulog (19,4%): Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada di angka 915 ribu ton. Angka ini adalah “peluru” bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar jika harga mulai liar.
- Penggilingan & Pedagang (21,5%): Sektor swasta memegang peranan krusial dalam mengalirkan beras dari sawah ke piring konsumen.
- Horeka (Hotel, Restoran, Kafe): Sisanya tersebar di industri jasa boga.
Melihat sebaran ini, integrasi data menjadi harga mati. Jika distribusi di tingkat pedagang tersumbat, maka stok jutaan ton ini hanyalah tumpukan busuk yang tidak memberikan dampak ekonomi bagi rakyat kecil.
Logistik vs Perut Rakyat
Angka 4,72 juta ton seharusnya menjadi sinyal bagi para spekulan untuk berhenti bermain api. Dengan stok yang melimpah, tidak ada alasan bagi harga beras untuk terus meroket. Namun, kita harus waspada. Stok melimpah di masa panen raya adalah hal biasa, namun ketahanan pasca-panen dan efisiensi distribusi adalah tantangan sesungguhnya.
Pemerintah jangan hanya sibuk pamer angka rekor. Fokuslah pada bagaimana memindahkan 4,72 juta ton beras ini ke daerah-daerah defisit dengan biaya logistik yang murah. Tanpa efisiensi logistik, “rekor” ini hanya akan menjadi bahan presentasi yang indah di ruang rapat, sementara di pasar tradisional, label harga masih enggan turun.
Menuju Kedaulatan, Bukan Sekadar Stok
Rekor stok beras ini adalah momentum. Kita punya modal yang kuat untuk menjaga stabilitas nasional hingga akhir tahun. Namun, kedaulatan pangan bukan diukur dari seberapa banyak beras yang menumpuk di gudang, melainkan seberapa terjangkau nasi tersebut bagi rakyat yang paling membutuhkan.
Sudah saatnya transparansi distribusi menjadi prioritas. Jangan biarkan data ini hanya menjadi konsumsi elite, sementara di akar rumput, keresahan masih membayangi. Indonesia sudah membuktikan bisa memproduksi beras dalam jumlah masif. Kini, saatnya membuktikan kita bisa mengelolanya dengan adil.(RFF)



