PrameswaraFM – Dunia arsitektur dan manajemen masjid di Jawa Timur kini memasuki babak baru. Tidak sekadar menjadi tempat ibadah, masjid dituntut untuk memiliki standar keamanan konstruksi, keindahan arsitektur, hingga manajemen yang profesional. Menjawab tantangan ini, Universitas Islam Darul `Ulum (Unisda) Lamongan mengambil langkah strategis dengan menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur dalam sebuah kolaborasi prestisius untuk mengawal standarisasi masjid di seluruh provinsi.
Langkah konkret ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor Unisda, Hafidh Nashrullah, dengan DMI Jatim pada ajang bergengsi Masjid Award 2025 di Islamic Centre Surabaya, Jumat (5/12/2025) seperti dikutip dari beritajatim.com.
Mengapa Standarisasi Masjid Itu Kritis?
Mari kita bicara fakta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Agama, Jawa Timur adalah salah satu provinsi dengan jumlah masjid terbanyak di Indonesia, mencapai lebih dari 50.000 unit. Namun, pertanyaannya: berapa persen yang dibangun dengan perencanaan sipil dan arsitektur yang matang?
Banyak masjid dibangun secara swadaya dengan semangat tinggi namun minim kajian teknis. Akibatnya, sering kita temui masjid dengan akustik suara yang bergema tidak jelas, sirkulasi udara yang pengap, hingga struktur yang tidak ramah bencana. Di sinilah peran standarisasi masjid menjadi sangat krusial.
Standarisasi bukan hanya soal estetika, tapi soal Ri’ayah (pemeliharaan fisik) yang menjamin keamanan dan kenyamanan jamaah. DMI pusat bahkan telah lama bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk menerbitkan pedoman rancang bangun masjid, dan kini Unisda Lamongan hadir sebagai eksekutor teknis di lapangan.
Unisda Tawarkan Solusi Sains & Teknik
Dalam kolaborasi ini, Unisda tidak main-main. Kampus kebanggaan warga Lamongan ini menerjunkan dua program studi unggulannya: Teknik Sipil dan Arsitektur.
“Dukungan kampus bukan sekadar kerja sama administratif, tetapi kontribusi nyata yang terukur sesuai kompetensi akademik,” tegas Rektor Unisda, Hafidh Nashrullah.
Apa yang ditawarkan Unisda adalah paket lengkap solusi teknis:
- Kajian Konstruksi: Memastikan struktur bangunan masjid kokoh dan sesuai standar keamanan sipil.
- Desain Arsitektur Berbasis Kaidah Ilmiah: Merancang masjid yang tidak hanya indah (estetis) tetapi juga fungsional, memperhatikan pencahayaan alami, dan sirkulasi udara (penghawaan).
- Pendampingan Teknis: Mengawal proses pembangunan agar efisien dan tepat sasaran.
Sebagai bukti validitas kepakaran mereka, Unisda telah meresmikan Masjid Sofyan Abdul Wahab di lingkungan kampus mereka sepekan sebelumnya. Masjid ini bukan sekadar bangunan baru, melainkan showcase atau model percontohan bagaimana sebuah masjid modern harus dirancang—representatif, megah, namun tetap khusyuk dan fungsional.
Menuju Masjid Berdaya: Idarah, Imarah, & Ri’ayah
Kolaborasi ini juga merespons arahan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang hadir dalam acara tersebut. Khofifah menekankan pentingnya masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Ini sejalan dengan konsep Triologi Manajemen Masjid:
- Idarah: Manajemen administrasi yang rapi.
- Imarah: Kemakmuran aktivitas (dakwah & ekonomi).
- Ri’ayah: Pemeliharaan fisik bangunan.
Unisda Lamongan siap mengawal aspek Ri’ayah melalui keahlian tekniknya, sekaligus mendukung aspek Imarah dengan merespons tantangan ekonomi seperti budidaya lele ekspor hingga pengelolaan peternakan yang disarankan Gubernur.
Sebuah Langkah Maju untuk Umat
Sinergi antara akademisi (Unisda) dan organisasi kemasjidan (DMI) ini adalah model ideal pembangunan peradaban. Bagi para Takmir masjid di Lamongan, Ngawi, Magetan, dan seluruh Jawa Timur, ini adalah sinyal positif untuk mulai membenahi masjid kita. Bukan hanya memegahkan menara, tapi memastikan pondasi dan fungsinya benar-benar melayani umat dengan standar terbaik.(RFF)



