PrameswaraFM – Pendidikan berkualitas tidak hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari kemampuan literasi siswa. Di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 25 Lamongan, sebuah inisiatif progresif baru saja dimulai: perintisan penerbitan majalah sekolah seperti dikutip dari beritajatim.com. Langkah ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan upaya strategis untuk membangun fondasi literasi baca dan tulis yang kuat, sekaligus membekali siswa dengan keterampilan jurnalistik dan berpikir kritis di era digital.
Inisiatif ini memicu pertanyaan kritis dan dinamis: mengapa majalah sekolah menjadi media yang relevan di tengah gempuran teknologi, dan bagaimana SRMA Lamongan memanfaatkan media ini untuk membentuk karakter dan kreativitas siswa dari keluarga kurang mampu?
I. Majalah Sekolah: Laboratorium Menulis dan Benteng Literasi
Penerbitan majalah sekolah, atau yang lebih dikenal dengan Majalah Dinding (Mading) berskala besar, memiliki peran edukatif yang sangat vital dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Bagi siswa SRMA Lamongan, yang merupakan sekolah berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, media ini menawarkan manfaat ganda:
- Meningkatkan Keterampilan Menulis dan Berpikir Kritis: Proses menulis untuk majalah melatih siswa untuk mengolah ide, menyusun narasi, menggunakan tanda baca yang benar, dan menyajikan informasi secara jelas dan menarik. Siswa diajak untuk berdiskusi, menganalisis, dan mengembangkan daya pikir kritis mereka.
- Pengalaman Jurnalistik: Siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam keterampilan jurnalisme, mulai dari peliputan, wawancara, menulis berita sekolah, hingga layout dan produksi. Ini adalah bekal berharga untuk dunia kerja.
- Meningkatkan Minat Baca: Majalah sekolah yang dikemas menarik dengan berbagai konten (cerpen, pantun, berita sekolah, dll.) berfungsi sebagai media komunikasi yang efektif dan mendorong siswa untuk lebih rajin membaca.
- Media Aktualisasi dan Kreativitas: Majalah menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kreasi dan menuangkan ide-ide mereka, baik dalam bentuk tulisan maupun karya visual.
II. SRMA Lamongan: Visi Pendidikan Rakyat yang Progresif
Keberhasilan SRMA Lamongan dalam merintis penerbitan majalah ini adalah bukti bahwa sekolah dengan misi sosial pun dapat menjalankan program pendidikan yang progresif.
- FGD Bersama Penulis: Langkah perintisan ini melibatkan Focus Group Discussion (FGD) dengan penulis profesional, seperti Aditya Akbar Hakim, untuk memacu semangat literasi siswa. Keterlibatan profesional ini memastikan siswa mendapatkan panduan terbaik dalam mengasah keterampilan menulis mereka.
- Membangun Ekosistem Literasi: Program ini sejalan dengan gerakan literasi yang lebih luas di Lamongan, seperti GERLAMSESAKU (Gerakan Lamongan Membaca Sehari Satu Buku), yang bertujuan menumbuhkembangkan budi pekerti dan membudayakan ekosistem literasi pada satuan pendidikan.
Penerbitan majalah ini merupakan salah satu cara SRMA Lamongan untuk memberikan pengalaman berorganisasi dan kreativitas kepada siswa, melengkapi sistem pembelajaran berbasis asrama yang representatif.
III. Harapan dan Tantangan: Menjaga Konsistensi dan Kualitas
Meskipun inisiatif ini sangat menjanjikan, tantangan yang dihadapi adalah menjaga konsistensi penerbitan dan kualitas konten.
- Konsistensi Penerbitan: Pengelolaan majalah sekolah memerlukan kerja sama yang baik dalam struktur redaksional. Konsistensi penerbitan sesuai jadwal sangat penting untuk mempertahankan minat baca siswa.
- Dukungan Sarana: Keberlanjutan majalah sekolah memerlukan dukungan sarana, prasarana, dan dana yang berkelanjutan.
- Pengembangan Soft Skill: Selain menulis, proses jurnalistik juga melatih siswa dalam berorganisasi, yang merupakan keterampilan abad ke-21 yang sangat penting.
Dengan perintisan majalah sekolah ini, SRMA Lamongan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memberikan pendidikan gratis, tetapi juga memberikan kualitas dan pengalaman yang setara dengan sekolah unggulan lainnya. (RFF)



