PrameswaraFM – Kabupaten Lamongan kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan nasional yang tak tergoyahkan. Berdasarkan data terbaru dari Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Timur, Lamongan menempati peringkat pertama sebagai penghasil padi Gabah Kering Giling (GKG) terbesar di Jawa Timur sepanjang tahun 2025 seperti dikutip dari beritajatim.com. Dengan total produksi mencapai 904.928 ton GKG, Lamongan tidak hanya melampaui daerah lain, tetapi juga mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Capaian monumental ini memicu pertanyaan kritis dan dinamis: apa rahasia di balik konsistensi Lamongan dalam berproduksi masif, dan bagaimana strategi hilirisasi dan kolaborasi Pemkab menjadi kunci utama ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim?
I. Data Kritis dan Lonjakan Produktivitas: 904 Ribu Ton GKG
Capaian produksi 904.928 ton GKG pada tahun 2025 merupakan lonjakan yang sangat berarti. Angka ini meningkat signifikan dari 776.290 ton GKG yang dicatatkan Lamongan pada tahun 2024. Kenaikan ini menegaskan Lamongan sebagai produsen padi terbesar di Jawa Timur, yang secara umum merupakan salah satu provinsi lumbung pangan utama di Indonesia.
- Konsistensi di Tengah Tantangan: Produksi yang masif ini membuktikan ketangguhan sektor pertanian Lamongan dalam menghadapi tantangan yang ada, mulai dari perubahan iklim, potensi kekeringan, hingga fluktuasi harga input produksi. Ini menunjukkan bahwa program mitigasi dan adaptasi yang diterapkan Pemkab berjalan efektif.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menegaskan bahwa prestasi ini adalah hasil dari konsistensi Pemkab dalam memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program strategis dan kolaboratif.
II. Strategi Kolaboratif Pemkab Lamongan: Fondasi Lumbung Pangan
Keberhasilan Lamongan tidak lepas dari strategi terpadu yang diterapkan Pemkab Lamongan dan dinas terkait. Program-program ini berfokus pada penguatan seluruh ekosistem pertanian:
- Akses Input Produksi: Mempermudah akses pupuk bagi petani dan menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Modernisasi alat pertanian mempercepat proses tanam, panen, dan mengoptimalkan efisiensi.
- Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT): Memastikan lahan pertanian di Lamongan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin melalui program perluasan lahan tanam. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan Indeks Pertanaman (IP).
- Jaminan Kesejahteraan: Pemberian jaminan sosial dan asuransi petani. Asuransi ini sangat penting untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen, memberikan rasa aman, dan mendorong mereka untuk terus berproduksi.
- Pendampingan Berkelanjutan: Menyediakan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan kepada kelompok tani dan penyuluh. Hal ini memastikan bahwa petani mengadopsi teknik pertanian terbaru dan adaptif terhadap tantangan iklim.
III. Visi Jangka Panjang: Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Nasional
Capaian ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar angka produksi. Lamongan telah membuktikan efektivitas program pertanian berbasis inovasi dan kolaborasi daerah.
- Kesejahteraan Petani: Peningkatan produksi secara langsung berpotensi mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani Lamongan.
- Ketahanan Pangan: Capaian ini secara signifikan memperkuat posisi Lamongan dalam rantai pasok pangan nasional dan menjaga ketahanan sektor pertanian Indonesia di tengah tantangan global.
Lamongan harus terus menjaga momentum ini dengan memperkuat infrastruktur air (seperti waduk dan embung) dan meningkatkan kualitas hilirisasi produk, agar predikat lumbung pangan nasional ini dapat bertahan secara berkelanjutan, membawa kemakmuran bagi seluruh masyarakatnya. (RFF)



