Senin, September 7, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

EDITORIAL : DI ANTARA DIKSI DAN AKUNTABILITAS

PrameswaraFM – Ketika Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyebut penonaktifan PBI BPJS sebagai “instruksi Presiden”, yang muncul bukan sekadar satu kalimat administratif. Di ruang publik, frasa itu terdengar sebagai perintah langsung kepala negara bukan sebagai kebijakan teknokratis berbasis pembaruan data.

Padahal, menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, penonaktifan dilakukan berdasarkan pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi (DTSEN/DTKS), bukan instruksi personal Presiden. Klarifikasi ini penting, karena menyangkut garis akuntabilitas: apakah keputusan lahir dari sistem berbasis data, atau dari perintah figur.

Di sinilah problemnya. Dalam praktik komunikasi birokrasi, kata “Presiden” kerap dipakai sebagai simbol pemerintah pusat. Namun di telinga publik, ia terdengar literal. Perbedaan antara simbolik dan faktual itu tipis dan mahal dampaknya.

Masalah ini bukan sekadar soal salah diksi. Ia membuka pertanyaan lebih dalam: apakah kita masih terjebak dalam budaya politik yang personalistik, di mana kebijakan administratif pun perlu disandarkan pada nama besar agar terasa sah? Jika iya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pejabat, melainkan kejernihan sistem tata kelola.

Di tengah polemik, warga penerima PBI tidak sedang memikirkan teori komunikasi. Pertanyaan mereka sederhana: “BPJS saya aktif atau tidak?” Kepastian layanan kesehatan jauh lebih mendesak daripada perdebatan narasi. Maka klarifikasi seharusnya bukan sekadar koreksi reputasi, melainkan diikuti mekanisme transparan dan respons cepat terhadap warga terdampak.

Dari kasus ini, ada pelajaran mendasar: dalam komunikasi publik, presisi bukan soal gaya bahasa, tetapi soal tanggung jawab. Nama Presiden membawa bobot politik dan simbolik yang besar. Menggunakannya tanpa kehati-hatian bisa menggeser persepsi, membingungkan akuntabilitas, dan memantik politisasi yang tak perlu.

Satu kalimat bisa menjadi api.
Tapi satu kalimat yang diluruskan dengan jernih bisa menjadi penenang.
Di era digital, memilih kata sama pentingnya dengan membuat kebijakan itu sendiri. (EQ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles