Senin, Agustus 10, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Akhiri Panen Gagal: Program Bongkar Ratoon Lamongan Dieksekusi

PrameswaraFM – Tanah-tanah perkebunan tebu kita sudah terlalu lelah, dipaksa berproduksi bertahun-tahun tanpa ada regenerasi yang layak. Hasilnya? Produktivitas hancur lebur, petani semakin tercekik kemiskinan, dan keran impor gula terus dibuka lebar-lebar. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik cuaca buruk atau nasib. Mengandalkan sisa-sisa akar tebu lama (ratoon) yang sudah berkali-kali dipanen adalah bentuk bunuh diri massal di sektor pertanian. Namun, tahun 2026 ini membawa sebuah manuver radikal. Pemerintah akhirnya mengeksekusi Program Bongkar Ratoon Lamongan dengan alokasi lahan seluas 1.385 hektare seperti dilansir dari beritajatim.com. Ini bukan sekadar program bagi-bagi bibit biasa; ini adalah operasi bedah jantung bagi industri gula di Jawa Timur.

Strategi Brutal: Program Bongkar Ratoon Lamongan

Secara agronomis, tanaman tebu memang bisa tumbuh kembali setelah ditebang. Praktik menumbuhkan sisa akar ini disebut ratoon. Praktis dan murah di awal, ya. Namun, matematika di lapangan tidak pernah berbohong. Setiap kali petani mempertahankan ratoon untuk musim tanam berikutnya (keprasan kedua, ketiga, dan seterusnya), tingkat rendemen atau kandungan gula di dalam batang tebu akan anjlok drastis antara 15 hingga 30 persen. Memaksa akar yang sudah menua untuk terus memproduksi gula adalah ilusi.

Alokasi 1.385 hektare dalam Program Bongkar Ratoon Lamongan adalah intervensi taktis. Artinya, sisa-sisa tunggul tebu tua di ribuan hektare lahan tersebut akan dibongkar habis menggunakan alat berat. Tanah akan dibajak ulang, struktur haranya dikembalikan, dan bibit tebu varietas baru yang jauh lebih unggul akan ditanam. Ini adalah tindakan menghancurkan yang lama untuk membangun fondasi baru yang jauh lebih kuat. Tanpa peremajaan ekstrem ini, target swasembada gula nasional hanyalah pidato kosong politisi menjelang pemilu.

Analisis Data: Memutus Rantai Kemiskinan Petani Tebu

Mengapa Lamongan mendapat jatah sebesar ini? Lamongan adalah salah satu kantong vital penyangga pasokan bahan baku bagi pabrik-pabrik gula di Jawa Timur. Ketika produksi tebu di daerah ini lumpuh akibat kualitas ratoon yang memburuk, efek dominonya langsung menghantam neraca pangan nasional.

Bagi petani di akar rumput, bongkar ratoon adalah mimpi buruk finansial jika tidak disubsidi. Biaya untuk traktor pembongkar, pengolahan lahan baru, hingga pembelian bibit unggul memakan modal yang tidak sedikit. Mereka sering kali memilih jalan pintas membiarkan akar lama tumbuh karena ketiadaan modal segar, bukan karena mereka tidak paham agrikultur. Kehadiran program pemerintah ini bertindak sebagai shock therapy finansial. Dengan menanggung beban biaya awal peremajaan lahan, negara mengambil alih risiko, sehingga petani bisa kembali fokus pada manajemen perawatan harian yang optimal.

Ujian Sebenarnya: Eksekusi Tanpa Birokrasi Korup

Rencana di atas kertas selalu terlihat epik. Namun, kita tahu betul penyakit kronis birokrasi pertanian kita: realisasi di lapangan yang sering kali melenceng, bibit unggul yang datang terlambat dari jadwal tanam, hingga pupuk subsidi yang menguap entah ke mana saat paling dibutuhkan.

Membongkar 1.385 hektare lahan di Lamongan menuntut presisi logistik yang tinggi. Pemerintah daerah dan pabrik gula setempat diwajibkan mengawal proses ini seperti operasi militer. Jangan biarkan petani yang tanahnya sudah dibongkar dibiarkan telantar menunggu bibit berminggu-minggu.

Keputusan telah diambil, dan mesin-mesin traktor siap meraung membelah tanah Lamongan. Pertanyaannya sekarang: mampukah sistem pengawasan kita memastikan setiap jengkal dari 1.385 hektare itu benar-benar menghasilkan rendemen gula dua digit, atau alokasi anggaran raksasa ini hanya akan kembali menguap menjadi laporan fiktif akhir tahun? Masa depan ketahanan pangan kita, dan periuk nasi ribuan petani tebu, dipertaruhkan di atas tanah ini.(RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles