Senin, September 7, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mitigasi Banjir Lamongan 2026: Bukan Sekadar Tambal Sulam, Ini Fakta Saintifik di Balik Penguatan Tanggul Kali Plalangan!

PrameswaraFM – Bicara soal banjir di Lamongan, rasanya seperti memutar kaset lama yang terus berulang, ya? Tapi, ada yang berbeda di awal tahun 2026 ini. Bukan lagi sekadar panic buying karung pasir saat air sudah naik, Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo kini mengambil langkah taktis yang jauh lebih agresif di Kali Plalangan. Mengapa spot ini begitu krusial? Dan apakah penguatan tanggul ini benar-benar solusi, atau hanya placebo? Mari kita bedah faktanya secara saintifik.

Berdasarkan data lapangan yang terhimpun hingga 30 Januari 2026, Dinas PU SDA Lamongan mengonfirmasi bahwa alat berat telah dikerahkan untuk memperkuat struktur tanggul Kali Plalangan. Langkah ini bukan tanpa sebab. Kali Plalangan adalah “arteri” vital dalam sistem drainase Bengawan Jero. Jika arteri ini pecah (jebol)—seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya—maka ribuan hektar tambak dan permukiman di sektor tengah Lamongan akan lumpuh.

Seperti yang disampaikan melalui beritajatim.com Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi (Pak Yes), dalam tinjauan lapangannya menegaskan bahwa fokus kali ini adalah kelancaran hidrolik. Targetnya bukan hanya menambal, tapi memastikan aliran air dari selatan ke utara tidak mengalami backwater (arus balik) saat debit puncak terjadi.

Mengapa tanggul bisa jebol? Dalam jurnal teknik sipil dan hidrologi, kegagalan tanggul sering disebabkan oleh fenomena yang disebut piping dan overtopping.

  • Piping: Terjadi ketika air merembes melalui pori-pori tanah tanggul, menggerus material dari dalam hingga tanggul keropos.
  • Overtopping: Air melimpah melewati puncak tanggul, menggerus sisi luar hingga struktur runtuh.

Penguatan yang dilakukan saat ini menggunakan prinsip Geoteknik. Tanah dipadatkan (compaction) untuk menghilangkan rongga udara agar densitasnya meningkat, sehingga risiko piping bisa diminimalisir. Selain itu, normalisasi aliran sungai bertujuan untuk memperbesar cross-section area (penampang basah sungai). Rumus dasarnya sederhana: Q = A x V. Dengan memperluas penampang (A), kapasitas debit (Q) yang bisa ditampung akan meningkat, mengurangi risiko air melimpah ke permukiman.

Namun, teknologi sipil tercanggih pun akan kalah jika kita abai pada satu hal: Sampah. Eceng gondok dan sampah domestik adalah musuh utama yang menurunkan kecepatan aliran air (V). Bupati Lamongan telah mewanti-wanti, sinergi masyarakat sangat dibutuhkan. Jangan sampai tanggulnya sudah beton, tapi sungainya mampet oleh sampah plastik kita sendiri.

Penguatan Tanggul Kali Plalangan di tahun 2026 ini adalah kombinasi antara engineering dan community awareness. Ini adalah upaya “menjemput bola” sebelum curah hujan ekstrem mencapai puncaknya. Mari kita pantau terus perkembangannya dan pastikan kita juga ambil bagian dengan menjaga kebersihan sungai. (RFF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles