PrameswaraFM – Gambut tak pernah benar-benar mati. Di bawah pijakan rapuh kawasan Petukatun, Jekan Raya, bara api masih menyimpan teror. Karhutla Palangkaraya bukan sekadar bencana musiman tahunan; ini adalah zona perang ekologi terbuka. Saat hembusan angin kencang datang, percikan kecil di atas lahan gambut kering kembali beringas, menyala, dan siap merambat melahap area lain yang kerontang. Skuad pemadam dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan tak punya waktu bernapas lega. Saat pagi hari api terlihat padam, siang hari mereka kembali dikepung titik panas. Mereka bertaruh nyawa mengeksekusi fase pendinginan yang sesungguhnya jauh lebih krusial, menguras tenaga, dan berbahaya daripada sekadar mematikan jilatan api di permukaan tanah.
Taktik Survei “Size-Up” Melawan Sabotase Alam
Operasi pemadaman Karhutla Palangkaraya berhadapan langsung dengan sabotase ganda: angin yang beringas mengubah arah dan cekikan musim kemarau. Irwan, Ketua Tim Pemadaman dari Daops Manggala Agni Kalimantan 1 Palangkaraya, membongkar kenyataan pahit di garis depan. “Tantangan terbesar yang kami rasakan sekarang adalah perubahan arah angin yang tidak menentu dan keterbatasan sumber air di lapangan,” tegasnya tanpa basa-basi.
Karakteristik lahan gambut ibarat spons raksasa penyimpan karbon. Jika terbakar, apinya menjalar diam-diam di bawah tanah, menciptakan kantong-kantong bara yang tak terlihat mata. Oleh karena itu, Manggala Agni menolak strategi konyol asal semprot air. Mereka mengeksekusi analisis taktis melalui Unit Size-Up. Tim intelijen garda depan ini bergerak lebih awal menembus zona merah untuk memetakan topografi, menganalisis kondisi rambatan, serta melacak lokasi sumber air yang tersisa sebelum skuad tempur utama turun gelanggang.
Tanpa data lapangan yang presisi dari tim Size-Up, menerjunkan puluhan personel sama saja dengan misi bunuh diri massal. Berbekal data intelijen tersebut, pasukan kemudian dipecah menjadi dua poros sayap operasional—tim sebelah kiri dan tim sebelah kanan—untuk mengepung, mengisolasi material bakaran, dan memblokir jalur rambat api. Langkah memblokir ini sangat vital agar api tidak menyebar liar memakan lebih banyak lahan gambut di sisi lainnya.
Defisit Logistik Menghantui Garis Depan
Meski taktik pemblokiran telah dieksekusi dengan presisi tingkat tinggi, realitas logistik memukul telak kelangsungan operasi para petugas di lapangan. Strategi perang secemerlang apa pun dipastikan akan runtuh jika amunisi di garis depan habis. Saat ini, tim Manggala Agni menghadapi defisit infrastruktur pendukung yang amat kritikal. Pasukan pemadam sangat membutuhkan suntikan logistik yang mendesak, mulai dari pasokan tambahan mesin pompa air berkapasitas tinggi hingga pemenuhan kebutuhan konsumsi harian.
Bagaimana kita bisa menuntut para pahlawan lingkungan ini menyelamatkan paru-paru Kalimantan, sementara asupan perut dan perlengkapan vital mereka masih harus menggantung pada keterbatasan? Membiarkan petugas berjibaku melawan asap beracun dengan tekanan pompa air seadanya dan perut kosong adalah sebuah kelalaian sistemik. Operasi pemadaman api skala besar bukan cuma urusan menekan nozzle selang di lapangan, tapi juga tentang bagaimana para pemangku kebijakan memelihara rantai pasok logistik yang stabil dan tak boleh terputus dalam kondisi krisis.
Sampai Kapan Kita Kalah Melawan Bara?
Karhutla Palangkaraya tahun ini kembali menampar wajah para elit pengambil kebijakan. Sistem deteksi dini, mitigasi bencana, dan respons darurat logistik di atas lahan gambut wajib direvolusi total sekarang juga. Jangan tunggu hingga jutaan kubik asap beracun terbang mencekik kota-kota tetangga baru kita panik mencari kambing hitam. Jika garda terdepan negara sekelas brigade Manggala Agni saja masih harus menjerit lantang karena kekurangan akses air baku dan logistik esensial, pantaskah kita mengklaim diri telah tangguh menghadapi krisis iklim? Pertanyaan retoris ini harus dijawab dengan tindakan. Sampai kapan birokrasi kita membiarkan para petugas lapangan bertarung dengan tangan kosong melawan monster ekologi yang sejatinya kita pelihara sendiri?(RFF)
SUMBER: Dilansir dari METRO TV (25 Agustus 2026)



