PrameswaraFM – Kolaborasi strategis antara dunia akademik dan masyarakat pedesaan kembali menunjukkan hasilnya. Universitas Islam Lamongan (UNISLA) secara resmi menjalin kerja sama dengan Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, untuk mengembangkan ekowisata mangrove dan ekonomi hijau seperti dikutip dari beritajatim.com. Langkah ini bukan hanya inisiatif pengabdian masyarakat biasa, melainkan sebuah visi progresif untuk mentransformasi desa pesisir menjadi pusat ekonomi berkelanjutan yang berlandaskan pada pelestarian lingkungan.
Sinergi antara UNISLA dan Desa Tunggul memicu pertanyaan kritis: bagaimana peran perguruan tinggi dapat menjadi katalisator efektif dalam menggali potensi desa, dan sejauh mana model ekonomi hijau berbasis mangrove dapat menjadi solusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat?
Desa Tunggul: Potensi Emas yang Menanti Sentuhan Profesional
Desa Tunggul, yang berlokasi di kawasan pesisir Pantura, memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, termasuk area mangrove yang vital. Potensi ini kian diperkuat dengan keberadaan desa ini sebagai sentra ternak kambing dan domba, sebuah fakta yang menunjukkan bahwa Desa Tunggul memiliki fondasi ekonomi yang kuat.
Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan sentuhan inovasi dan manajemen profesional. Sinergi dengan UNISLA hadir untuk menjawab kebutuhan ini. Ekowisata mangrove, sebagai salah satu pilar ekonomi hijau, menawarkan solusi yang holistik:
- Konservasi Lingkungan: Pengembangan ekowisata secara otomatis mendorong pelestarian hutan mangrove, yang berperan penting dalam mencegah abrasi pantai dan menjadi habitat bagi biota laut.
- Peningkatan Ekonomi Lokal: Ekowisata menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga desa, mulai dari pengelola wisata, pemandu, hingga pelaku UMKM yang menjual produk olahan dari mangrove atau hasil laut.
- Edukasi Publik: Destinasi wisata mangrove juga berfungsi sebagai media edukasi bagi pengunjung tentang pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Kombinasi antara potensi perikanan, peternakan (kambing dan domba), dan kini ekowisata mangrove, menempatkan Desa Tunggul sebagai model desa yang memiliki keragaman sumber ekonomi.
Peran UNISLA: Kampus sebagai Mesin Inovasi dan Pemberdayaan Desa
Keterlibatan UNISLA dalam proyek ini merupakan perwujudan nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat). Peran kampus dalam pengembangan desa sangat krusial dan multidimensional:
- Edukator dan Fasilitator: UNISLA akan bertindak sebagai pendamping, memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Tunggul tentang manajemen pariwisata, teknik pengolahan produk dari mangrove, dan pentingnya konservasi. Ini adalah proses transfer ilmu pengetahuan langsung ke lapangan.
- Riset dan Inovasi: Akademisi dan mahasiswa UNISLA dapat melakukan penelitian untuk mengembangkan produk turunan dari mangrove, menemukan strategi pemasaran yang efektif untuk ekowisata, atau merumuskan kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
- Penciptaan Akses dan Jaringan: UNISLA, sebagai lembaga profesional, dapat membantu Desa Tunggul dalam menjalin kerja sama dengan pihak luar, baik dari pemerintah (seperti Dinas Pariwisata atau Dinas Lingkungan Hidup) maupun sektor swasta, untuk mendapatkan dukungan pendanaan atau promosi.
Model kolaborasi ini sejalan dengan program-program nasional yang mendorong perguruan tinggi untuk lebih aktif terlibat dalam pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat.
Ekonomi Hijau Berkelanjutan: Tantangan dan Harapan ke Depan
Pengembangan ekowisata mangrove dan ekonomi hijau di Desa Tunggul memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan yang harus diatasi:
- Edukasi dan Kesadaran Masyarakat: Diperlukan edukasi yang berkelanjutan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar tidak hanya fokus pada eksploitasi, melainkan pada pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan.
- Infrastruktur dan Akses: Perluasan dan perbaikan akses jalan menuju kawasan ekowisata, serta pembangunan fasilitas pendukung yang ramah lingkungan.
- Regulasi dan Tata Kelola: Dibutuhkan tata kelola yang jelas dan transparan, termasuk peraturan desa yang mendukung pelestarian mangrove dan pembagian keuntungan yang adil bagi seluruh komunitas.
- Konsistensi Dukungan: Keberhasilan jangka panjang bergantung pada konsistensi dukungan dari UNISLA dan pemerintah daerah, tidak hanya pada tahap awal.
Dengan sinergi yang kuat antara UNISLA, Pemkab Lamongan, dan masyarakat Desa Tunggul, proyek ini memiliki peluang besar untuk menjadi model percontohan pembangunan ekonomi pedesaan berbasis lingkungan yang sukses. Ini adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dapat berpadu untuk menciptakan masa depan yang lebih makmur dan berkelanjutan. (RFF)



